Pict : jalanmebel.com

NEWSWANTARA – Alam yang kaya raya telah memberi inspirasi kepada masyarakat untuk bisa berpikir kreatif. Ini tercermin dalam seni ukir yang memiliki keberagaman karya seni khas Indonesia.

Khusus untuk seni ukir yang berbahan dasar kayu, dengan semakin beragam motifnya dikarenakan didukung oleh alam Indonesia yang memiliki hutan tropis, sehingga menghasilkan kayu yang bisa dipakai sebagai bahan dasar seni ukir dengan kualitas dunia.

Kerajinan ukir yang dikenal di Indonesia antara lain berupa, seni ukir kayu dan seni ukir logam. Daerah-daerah penghasil kerajinan ukir kayu di Nusantara meliputi Jepara, Cirebon, Bali, Kalimantan, Papua, Madura, dan Sumatera.

Kerajinan ukir logam terbuat dari perak, tembaga, emas, dan kuningan. Proses pembuatan kerajinan logam banyak menggunakan teknik cetak atau cor, tempa, toreh, dan penyepuhan. Daerah penghasil kerajinan logam Nusantara paling banyak terdapat di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Pengerajin logam yang terletak di Yogyakarta tepatnya di Kota Gede sudah ada sejak Kerajaan Mataram. Seni ukir di Yogyakarta banyak digunakan sebagai oranamen, relief, logo, lampu hias, furniture, souvenir, dan hunian yang menghiasi melengkapi suatu bidang ruang atau pengisi interior ruang yang memiliki nilai seni tinggi.

Untuk seni ukir kayu, Kota Jepara lebih dikenal untuk produk seni ukir kayu di Indonesia. Kota Jepara, yang berada di bagian utara Jawa Tengah, memang terkenal dengan sentra industri mebel (kayu) ukiran. Adapun jumlah eksportirnya mencapai 223 eksportir dengan 111 negara tujuan di dunia.

Sekitar 60% produk meubel Jepara dijual ke pasar mancanegara seperti Israel, Guatemala, Nigeria, Italia, Turki, Inggris, Austria, dan lain-lain. Pada tahun 2012, jumlah Penanaman Modal Asing (PMA) di Jepara 164 PMA dengan nilai investasi Rp 8,5 triliun, tahun 2013 sebesar 187 PMA dengan nilai investasi Rp 8,7 triliun dan tahun 2014 sebanyak 215 PMA dengan nilai Rp 9,4 triliun.

Sedangkan jumlah PMDN tahun 2012 sebanyak 193 investor dengan nilai investasi Rp 390,7 miliar, tahun 2013 sebanyak 337 perusahaan (Rp 704,8 miliar) dan 2014 sebanyak 431 perusahaan (Rp 926 miliar).

Total nilai investasi seni ukir pada tahun 2014 sebesar  Rp 10,38 triliun. Meliliki hutan yang begitu luas dan merupakan hutan terbesar ke 8 di dunia, Indonesia hanya menempati posisi ke-13 sebagai negara pengekspor produk mebel terbesar di dunia.

Padahal, bahan baku kayu di negeri ini begitu melimpah. Untuk kawasan Asia Tenggara, negara yang menjadi pesaing Indonesia di pasar permebelan adalah Vietnam, meskipun negara tersebut tidak memiliki hutan mampu eksis pada pasar Asia.

Ketersediaan bahan baku yang melimpah karena banyaknya hutan yang dimiliki Indonesia menjadi modal penting untuk bisa dioptimalkan. Menyikapi persaingan bebas, Indonesia memiliki peluang untuk bisa bersaing pada tingkat global dengan nilai seni pada ukiran khas Nusantara.

Mempertahankan kualitas dari motif khas Nusantara akan menambahkan keunikan yang mampu meningkatkan nilai jual produk dari Indonesia. Ketersedian bahan baku yang melimpah serta didukung oleh kreatiftas sumber daya manusia, bukan tidak mungkin ukiran khas Indonesia mampu bersaing pada pasar global.

Berikan Komentar Anda

avatar