sabut kelapa
Pekerja yang sedang menjemur sabut kelapa untuk dikeringkan dan kemudian dipres untuk diekspor. [Pict : ANTARA]

NEWSWANTARA – Sebagai negara produsen kelapa terbesar di dunia Indonesia memiliki potensi yang cukup besar dalam pengolahan limbah sabut kelapa. Sekitar 3,2 persen sabutnya menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi sedangkan sisanya dibuang dan dibakar. Padahal sabut kelapa memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Serabut kelapa yang biasanya menjadi limbah sebenarnya memiliki nilai ekonomis. Sederhananya dapat dijadikan sebagai sapu ijuk dan keset yang sering dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Serabut kelapa ini juga bisa dijadikan sebagai pupuk organik, media pembakaran, briket, hingga kerajinan tangan.

Baca juga : Mengembangkan Batik Blora Yang Melibatkan Difabel

Potensi sabut kelapa di Indoensia terbilang besar hingga mampu menarik perhatian sejumlah pengusaha asal Italia untuk melakukan kerja sama. Melalui Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI), pengembangan serbuk sabut kelapa (coco peat) sebagai media tanam, pupuk organik dan bedding animal menjadi salah fokus kerjasamanya.

Secara tradisional, masyarakat juga telah mengolah sabut untuk dianyam menjadi keset dan sapu ijuk. Padahal sabut masih memiliki nilai ekonomis cukup baik seperti diolah untuk menghasilkan serat sabut (cocofibre) dan serbuk sabut (cococoir) yang menghasilkan aneka macam produk derivatif yang banyak manfaatnya, termasuk berupa pupuk organik.

Baca juga : Kesiapan Indonesia Menghadapi Industri 4.0

Indonesia menjadi salah satu produsen buah kelapa terbesar di dunia dengan produksi pada tahun 2017 mencapai 15 miliar butir per tahun. Akan tetapi sabutnya baru dapat diolah sekitar 3,2 persen menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi, sisanya dibuang dan dibakar. Potensi sabut kelapa yang dapat diolah menjadi energy alternatif sebanyak 9 juta ton per tahun.

Negara yang cukup serius menggarap peluang ekspor sabut kelapa ini salah satunya Filipina. Jumlah pohon kelapa di Filipina sudah bisa bersaing dengan India dan Sri Lanka yang dikenal sebagai produsen sabut kelapa terbesar saat ini. Peluang ekspor sabut kelapa patut dicermati karena aktivitas ekspor bermanfaat untuk perekonomian negara secara umum.

Baca juga : Pesona Potensi Bumi Nyiur Melambai

Peneliti meyakini jika dengan menggantikan synthetic polyester fiber dengan fiber sabut kelapa (coir) akan mengurangi konsumsi bahan bakar 2 sampai 4 juta barel dan emisi karbon dioksida 450 ribu ton per tahun. Penggantian ini memberi nilai lebih terhadap pengolahan sabut kelapa.

Negara Eropa sudah mulai mengantisipasi akan keterbatasan bahan bakar fosil dengan menggantinya dengan bahan bakar alternatif. Minimnya sumber biomassa membuat mereka harus bekerja sama dengan negara-negara yang kaya biomassa dari pertanian, industri kayu, dan kehutanan termasuk sumbernya dari pengoptimalan sabut kelapa.


Dikelolah dari berbagai sumber 

Berikan Komentar Anda

avatar