Teluk Jailolo Maluku Utara, pict : kidnesia.com

NEWSWANTARA – Sebagai salah satu Provinsi yang ada di Indonesia, Maluku Utara resmi terbentuk pada tanggal 4 Oktober 1999, melalui UU RI Nomor 46 Tahun 1999 dan UU RI Nomor 6 Tahun 2003. Sebelum resmi menjadi sebuah provinsi, Maluku Utara merupakan bagian dari Provinsi Maluku, yaitu Kabupaten Maluku Utara yang resmi berpisah dari Provinsi Maluku pada tanggal 12 Oktober 1999.

Pada awal pendiriannya, Provinsi Maluku Utara beribukota sementara di Ternate, yang berlokasi di kaki Gunung Gamalama. Ternate menjadi ibukota dari Provinsi Maluku selama 11 tahun. Setelah 11 tahun masa transisi dan persiapan infrastruktur, tepatnya sampai dengan 4 Agustus 2010, ibukota Provinsi Maluku Utara secara resmi dipindahkan ke Kota Sofifi yang terletak di Pulau Halmahera, yang merupakan pulau terbesar yang ada di Maluku utara.

Maluku Utara menyimpan potensi ekonomi yang sangat kuat, dan letaknya di bibir Samudra Pasifik, sehingga di masa yang akan datang wilayah ini berpeluang meraih beragam keuntungan ekonomi, khususnya dalam percaturan Pasar Pasifik.

Maluku Utara atau yang akrab disebut dengan Maloku Kei Raha, diartikan sebagai gugusan empat pulau bergunung dengan potensi berlimpah yang dimiliki. Mulai dari sektor perkebunan, perikanan, hingga pertambangan.

Siapa pun yang melakukan pendekatan ekonomi di provinsi ini akan tiba pada kesimpulan yang sama, yaitu Maluku Utara menyimpan potensi ekonomi yang sangat kuat, dan letaknya di bibir Samudra Pasifik, sehingga di masa yang akan datang wilayah ini berpeluang meraih beragam keuntungan dari sektor ekonomi.

festival jailolo, yang diadakan untuk mengingat/bernostalgia masa-masa kejayaan Maluku Utara yang menjadi pusat dagang dunia dan menjadi incaran bangsa Eropa seperti Portugis dan Spanyol karena mempunyai pohon-pohon emas (rempah-rempah).
festival jailolo, yang diadakan untuk mengingat/bernostalgia masa-masa kejayaan Maluku Utara yang menjadi pusat dagang dunia dan menjadi incaran bangsa Eropa seperti Portugis dan Spanyol karena mempunyai pohon-pohon emas (rempah-rempah).

Potensi perkebunan di Provinsi Maluku utara yang cukup berkembang adalah perkebunan kakao (pohon cokelat), kelapa, serta tanaman rempah-rempah seperti misalnya cengkeh. Dari seluruh wilayah yang ada di Provinsi Maluku Utara, kabupaten yang paling produktif menghasilkan komoditas perkebunan antara lain adalah Kabupaten Halmahera Selatan, Halmahera Utara, dan Halmahera Barat.

Bahkan hasil produksi tanaman kakao Maluku Utara kini berhasil menembus pasar ekspor, dan mendatangkan devisa bagi negara serta menjadi sumber pendapatan tambahan bagi pemerintah daerah setempat.

Potensi bisnis tanaman kakao semakin terbuka, dengan meningkatnya permintaan pada level domestik maupun internasional. Untuk bisa menguasai pasar Internasional, pengelolaan dari kakao itu sendiri harus melewati proses fermentasi. Dengan proses fermentasi harga jual biji kakao akan meningkat.

Sedangkan yang tidak melalui proses fermentasi, harga jualnya lebih murah dengan selisih sekitar 2ribu hingga 3ribu rupiah per kilonya. Dimana jika ditaksir secara total, biji kakao yang diolah melalui proses fermentasi tersebut jelas lebih memberi keuntungan besar bagi petani daripada yang tidak diolah melalui proses fermentasi.

Pada sektor kelautan dan perikanan, potensi yang dimiliki Maluku Utara bernilai milyaran dollar. Perairan Maluku Utara merupakan tempat tumbuh besarnya ikan sejenis cakalang dan tuna. Sesuai siklusnya, cakalang dan tuna bertelur di perairan Jepang dan dibawa oleh arus ke selatan hingga ke perairan Maluku, termasuk Sulawesi dan Teluk Tomini. Sampai di perairan Indonesia, kedua jenis ikan itu sudah siap makan. Tidak heran jika di perairan ini seringkali ditemukan banyak kapal ikan asing berbaju domestik. 

Potensi ekonomi Maluku Utara menjadi semakin lengkap dengan kekayaan tambang nikel kadar N1 (1,5%-2,5%). Besar potensi nikel yang sudah diketahui berkisar 220 juta ton yang tersebar di Tanjung Buli, Pulau Gebe, Pulau Gee, Pulau Pakal, Pulau Obi, dan Teluk Weda. Salah satu lokasi di antaranya yang sudah ditambang adalah Pulau Gebe.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh PT Halmahera Minerals, tambang emas yang dikandung Maluku Utara berkisar 1,4 juta ton dengan kadar layak tambang.

Penambangan emas di tambang bawah tanah Gosowong, Halmahera, Maluku Utara, pict : dunia-energi.com
Penambangan emas di tambang bawah tanah Gosowong, Halmahera, Maluku Utara, pict : dunia-energi.com

Sumber daya geologis lainnya terdapat di Pulau Obi yang diperkirakan mengandung 6,8 juta ton. Kandungan sumber daya geologis terbesar ditemukan di Pulau Bacan berkisar 70 juta ton. Tembaga yang tersimpan di perut Bumi Maluku Utara berkisar 70 juta ton, belum lagi mineral mangan, kromit, batu gamping, kalsit, bentonit, diatome, talk, kaolin, perlit, magnesit, andesit, sirtu, batu apung, diorit, dan beragam batu mulia.

Konflik horizontal yang pernah terjadi di Maluku pasca transisi politik 1998 biarlah termaafkan oleh ingatan. Kesengsaraan akibat perang saudara telah membuat daerah ini makin tertinggal. Peperang bukan jalan keluar menilai mana yang kuat dan mana yang lemah. Bijak menghadapi persoalan dilakukan dengan bijak dalam melihat persoalan itu sendiri. Persoalan tersebut harus diselesaikan secara bersama-sama. Berjalan bersama akan meringankan dalam menghadapi masalah yang walaupun itu terlihat besar.

Menciptakan stabilitas di semua bidang kehidupan masyarakat merupakan sebuah tindakan nyata yang harus dilakukan oleh semua pihak yang terkait. Bagi kalangan investor dan pihak-pihak yang berminat ikut ambil bagian dalam memajukan Maluku Utara, dasar stabilitas merupakan prasyarat utama. Sehingga dibutuhkan sebuah kerja keras untuk bersatu membangun stabilitas di semua bidang guna menciptakan Maluku Utara ke arah yang lebih baik.

“Pulanglah dan mulailah membangun kembali rumahmu, desamu, sekolahmu, karena Anda sekalian berpeluang menikmati beragam nilai lebih yang dimiliki oleh daerahmu”

~Bachtiar Chamsyah~

Berikan Komentar Anda

avatar