Pict : id.wikipedia.org

NEWSWANTARA – Dengan luas wilayah dan ekosistem beragam yang dimiliki Indonesia, keberadaan kebun raya, menjadi suatu hal yang sangat penting sebagai tempat konservasi tumbuhan. Dengan adanya kebun raya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menargetkan pada 2020, setidaknya 75% dari tumbuhan yang terancam punah bisa diselamatkan. Oleh sebab itu keberadaan kebun raya menjadi sangat penting bagi kelangsungan dan kelestarian hidup berbagai macam jenis tumbuhan yang ada di Indonesia.

Saat ini tercatat beberapa kebun raya yang ada di Indonesia, diantaranya adalah Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, dan Kebun Raya Purwodadi. Namun, ketiga kebun raya yang ada tersebut merupakan warisan dari pemerintah kolonial.

Pada tanggal 15 Juli 1959, muncullah nama Kebun Raya Eka Karya Bali, atau yang biasa disebut dengan Kebun Raya Bedugul yang merupakan salah satu kebun raya pertama asli buatan Indonesia. Ide pembuatan Kebun Raya Eka Karya berawal dari gagasan Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo, selaku Direktur Lembaga Pusat Penyelidikan Alam yang merangkap sebagai Kepala Kebun Raya Indonesia, dan I Made Taman, Kepala Lembaga Pelestarian dan Pengawetan Alam saat itu yang berkeinginan untuk mendirikan cabang kebun raya di luar Jawa, dalam hal ini Bali ditunjuk sebagai salah satu tempat pembuatan kebun raya yang berada di luar jawa.

Pict : Amelia Rahman via Flickr
Pict : Amelia Rahman via Flickr

Pada awalnya, lokasi kebun raya ditetapkan seluas 50 ha yang meliputi areal hutan reboisasi Candikuning serta berbatasan langsung dengan Cagar Alam Batukau. Namun seiring berjalannya waktu luas dari Kebun Raya Eka Karya hingga saat ini bertambah menjadi 157,5 ha.

Berlokasi tepatnya di kawasan wisata Bedugul, Desa Candikuning, kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Kebun Raya Bedugul memiliki berbagai macam koleksi tanaman yang mencapai kira-kira 16.000 tanaman yang terdiri dari 1.500 jenis, 320 marga, dan 155 suku. Kebun Raya ini terletak pada ketinggian 1250-1450 dpl. Suhu disiang hari antara 17ºC-25ºC dan suhu di malam hari dapat mencapai 10ºC-15ºC, dengan kelembaban 70%-90%.

Nama “Eka Karya” sendiri diusulkan oleh I Made Taman. “Eka” berarti Satu dan “Karya” berarti Hasil Kerja/karya. Jadi “Eka Karya” dapat diartikan sebagai kebun raya pertama yang merupakan hasil kerja/hasil karya dari bangsa Indonesia sendiri setelah Indonesia merdeka. Kebun raya ini dikhususkan untuk mengoleksi Gymnospermae (tumbuhan berdaun jarum) dari seluruh dunia karena jenis-jenis ini dapat tumbuh dengan baik di dalam kebun raya.

Pict : berbagitrip.blogspot.com
Pict : berbagitrip.blogspot.com

keberadaan kebun raya memiliki peran penting sebagai paru-paru kota sekaligus sebagai tempat konservasi, penelitian, pendidikan dan rekreasi. Hal ini dapat dilihat dari fungsinya melindungi tumbuhan-tumbuhan yang sudah mulai langka akibat dari eksploitasi hutan yang tidak menghiraukan dampaknya.

Fungsi lain dari kebun raya adalah sebagai paru-paru kota serta mengurangi dan meminimalisir emisi atau polusi udara yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor di perkotaan, keberadaan kebun raya dapat menekan terjadinya pemanasan global, dan sekaligus dapat berfungsi sebagai objek pariwisata.

Untuk itu, pembangunan kebun raya baru di beberapa daerah di Indonesia menjadi suatu keharusan guna melestarikan, mendayagunakan dan mengembangkan potensi tumbuhan khususnya yang berasal dari Kawasan Timur Indonesia, melalui kegiatan konservasi, penelitian pendidikan sebagai upaya pemanfaatan yang berkelanjutan untuk kelangsungan hidup masyarakat di masa sekarang dan di masa yang akan datang.


Sumber : kebunrayabali

Berikan Komentar Anda

avatar