NEWSWANTARA – Pertikaian antara manusia dan gajah memang kerap terjadi di daerah pedalaman Aceh Barat. Warga merasa gajah sering merusak lahan pertaniannya. Akibatnya, pembunuhan terhadap gajah semakin marak terjadi.

Banyak petani di wilayah pedalaman Aceh Barat yang mengeluh karena banyak tanaman mereka yang hancur akibat dirusak atau dimakan gajah. Kondisi serupa juga dihadapi perusahaan perkebunan sawit.

Masuknya gajah ke pemukiman penduduk membuat warga di pedalaman Aceh Barat pun merasa terancam. Di sisi lain, pembunuhan gajah terjadi bukan hanya karena perlawanan penduduk, tapi juga dilaterbelakangi oleh motif ekonomi.

Dalam beberapa kasus, gajah ditemukan mati dalam kondisi mengenaskan, gading dipatahkan dan dicuri. Habitat gajah semakin sempit karena alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit dan lahan pertanian masyarakat. Padahal, gajah mempunyai daya jelajah yang tinggi.

Seperti dilansir dari CNN Indonesia, Awal Oktober lalu, lima gajah masuk ke pemukiman di Desa Sumber Batu, Aceh Barat. Geucik atau kepala desa setempat menyebut gajah-gajah itu merusak berbagai tanaman di kebun warga. Peristiwa serupa juga terjadi Juni dan Mei lalu, di lokasi yang sama.

Kekhawatiran atas kepunahan gajah Sumatera (elephas maximus sumatrensis) sebelumnya telah dikampanyekan oleh seorang aktor Hollywood Leonardo DiCaprio. Maret lalu ia berkunjung ke Taman Nasional Gunung Leuser.

Leonardo DiCaprio saat mengampanyekan kepunahan gajah Sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser. Sumber: Mongabay

Alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit dan lahan pertanian membuat habitat gajah Sumatera semakin rusak. Ketika itu, DiCaprio menyatakan, perkebunan sawit mempersempit ruang gerak gajah Sumatera. Satwa itu pun sulit menemukan makanan dan sumber air.

Berdasarkan data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Aceh, gajah berperan vital pada kejayaan kerajaan-kerajaan di daerah itu sejak abad ke-17. Sultan Iskandar Muda misalnya, menjadikan gajah sebagai armada perang. Ia membentuk satuan prajurit kaveleri bergajah yang jumlahnya mencapai seribu orang.

Atas dasar itulah pada Senin (24/10/2016), Pemerintah Kabupaten Aceh Barat meresmikan Pos Pusat Konservasi Gajah Sumatera atau Conservation Response Unit (CRU) sebagai upaya pelestarian gajah sumatera. Konservasi ini diharapkan dapat menjadi penengah konflik antara gajah dan warga lokal.

Keberadaan pusat konservasi gajah, setidaknya dapat memberikan rasa aman bagi gajah dan penduduk Aceh Barat. Keseimbangan alam pun dapat dilestarikan. Masyarakat juga dihimbau untuk memahami kearifan lokal serta pola hubungan gajah dan warga Aceh yang telah terjalin sejak ratusan tahun silam.


Baca Juga :

Berikan Komentar Anda

avatar