Tumpukan sampah
Tumpukan sampah yang menggunung akan menjadi energi terbaru bagi manusia. [Pict : Istimewa]

NEWSWANTARA – Sumber energi baru dan terbarukan kini semakin masif dikampanyekan. Kesadaran masyarakat dunia akan energi terbarukan mulai meningkat untuk keluar dari persoalan energi. Di Indonesia, penggunaannya energi alternatif seperti pemanfaatan sampah mulai dilakukan untuk mengurangi ketergantungan dengan energi fosil.

Baca juga : Mengungkap Potensi Kekayaan Sumber Daya Energi dan Mineral di Indonesia

Kota Bekasi menjadi daerah pertama di Indonesia yang menjadikan olahan sampah sebagai pembangkit tenaga listrik. Pilot projek ini akan mejadi percontohan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di daerah lain. PLTSa nantinya dapat dijadikan sebagai pusat studi sekaligus wisata edukasi pengolahan sampah.

Peletekan batu pertama dalam pembangunan PLTSa Bantar Gebang, Bekasi. [Pict : Istimewa]

Penerapan teknologi PLTSa ini merupakan teknologi yang terbaik dibandingkan dengan pengolahan sampah dengan sistem sanitary landfill (penumpukan sampah dan dilapisi tanah merah).

Indonesia akan mempunyai PLTSa Thermal di beberapa daerah lain seperti, di Benowo (Surabaya), Sukawinatan (Palembang), Bukit Pinang (Samarinda), Gedebage (Bandung), Legok Nangka (Bandung), Putri Cempo (Solo), Gemah Ripah (Yogyakarta), Talangagung (Malang), Gandasuli (Brebes), Puuwatu (Kendari), Kapalo Koto Ampang (Payakumbuh), Tamangapa Antang (Makasar), Rawa Kucing (Tangerang), Jatibarang (Semarang).

Baca juga : Indonesia Terus Berpacu Mengembangkan Energi Terbarukan

Daerah-daerah tersebut akan menjadi percontohan sekaligus sebagai keseriusan pemerintah dalam mengembangkan energi terbarukan di Indonesia. Melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menjelaskan bahwa pembangunan PLTSa ini merupakan sebuah upaya untuk menekan volume sampah yang semakin darurat.

Proses pengolahan sampah menjadi energi dilakukan melalui proses biologis yang menghasilkan biogas. Semua jenis sampah (organik dan nonorganik) dari truk sampah dimasukkan ke dalam waste bunker besar yang telah dilengkapi crane untuk menaik dan menurunkan sampah agar air lindi terpisah dengan sampah.

Sampah yang sudah cukup kering kemudian masuk ke stoker grate waste heat recovery boiler untuk proses pembakaran di atas suhu 950 derajat Celcius. Panas yang keluar menimbulkan terjadinya proses penguapan yang akan diolah untuk menggerakkan turbin generator sehingga menghasilkan listrik.

Akhir tahun ini, PLTSa Bantar Gebang sudah beroperasi dengan menghasilkan listrik sebesar 400 kilo watt (KW)‎ dengan kapasitas 50 ton sampah per hari yang mampu dibakar melalui mesin ini. Hal ini yang diharapakan untuk kemudian dapat menyelesaikan persoalan sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat di seluruh penjuru tanah air.

 

Berikan Komentar Anda

avatar