Pict : kabarin.co

NEWSWANTARA – PT Pertamina (Persero) tengah serius membidik Blok East Kalimantan dan Blok Sanga-Sanga yang masa kontraknya akan segera habis pada 2018 mendatang. Rencananya, pengembangan kedua blok itu akan segera diintegrasikan dengan pengembangan Blok Mahakam yang akan dikelola Pertamina di awal tahun 2018.

Wianda Pusponegoro yang menjabat selaku Vice President Corporate Communication Pertamina mengatakan, integrasi itu dilakukan demi efisiensi biaya operasional Blok East Kalimantan dan Blok Sanga-Sanga dengan Blok Mahakam. Ketiga blok yang dimaksud tersebut berada di dalam satu wilayah yang sama sehingga seharusnya ada infrastruktur yang bisa digunakan secara bersama-sama.

Pertamina saat ini memiliki kilang di Bontang dan juga fasilitas Liquefied Natural Gas (LNG) di Badak. Ketiga blok tersebut seharusnya bisa menggunakan fasilitas secara bersama-sama sehingga biayanya akan menjadi lebih efisien.

Efisiensi biaya operasional itu bisa meningkatkan nilai keekonomian ketiga blok calon kelolaan Pertamina di sisi Timur Pulau Kalimantan tersebut. Terlebih produksi tiga Wilayah Kerja (WK) itu juga terbilang masih bagus, sehingga beban operasional yang rendah bisa mendongrak profitabilitasnya.

Menurut data Pertamina, saat ini produksi gas dari blok East Kalimantan mencapai 19 ribu barel setara minyak per hari (BOPD), sedangkan produksi blok Sanga-Sanga jauh lebih besar yaitu 39 ribu BOPD.

Baca Juga : pembangunan dan pengembangan stasiun penerima Liquified Natural Gas (LNG) Blok Masela

Sesuai Work Program and Budget (WP&B) Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Migas (SKK Migas) tahun 2016, produksi minyak dan kondensat Blok East Kalimantan ditargetkan mencapai 14.470 barel per hari (BPH).

Salah satu faktor mengapa Pertamina membidik blok Sanga-Sanga dan East Kalimantan adalah kemungkinan integrasinya dengan blok Mahakam. Cadangan gas blok Sanga-Sanga dan East Kalimantan juga masih bagus, sehingga PT Pertamina (Persero) bersedia untuk mengambil alih kelola kedua blok tersebut. Pengambil alihan kedua blok tersebut sangatlah penting, mengingat Indonesia diperkirakan akan mengalami defisit gas sebesar empat miliar MMMBTU di tahun 2020.

Saat ini Pertamina sedang berusaha untuk bisa menghitung biaya investasi pengembangan Blok East Kalimantan dan Blok Sanga-Sanga. Juni mendatang, pihak Pertamina baru akan mengajukan proposal pengambilalihan blok Sanga-Sanga ke Pemerintah.

Saat ini Blok Sanga-Sanga dioperatori oleh Vico Indonesia sedangkan Blok East Kalimantan masih dikempit oleh Chervron Indonesia Company dengan masa produksi yang telah dilakukan masing-masing selama 50 tahun.

Selain dua blok yang akan diambil alih, Pertamina juga berencana untuk memperpanjang blok Ogan Komering dan Tuban dengan mitra masing-masing Talisman dan Petrochina Pertamina memiliki hak partisipasi (Participating Interest) di dalamnya (Joint Operating Body/JOB) setelah tahun 2018 dengan total komitmen investasi mencapai US$280 juta.


Sumber : CNNIndonesia

Berikan Komentar Anda

avatar