Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
Gambaran Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang akan di bangun di Indonesia. (Foto : Istimewa0

NEWSWANTARA – Masyarakat masih begitu bergantung dengan energi berbahan fosil yang perlahan mulai terkikis ketersediannya. Energi yang akan habis meskipun belum diketahui kapan tepatnya akan habis. Maka dari itu, sedari hari ini harus mencari alternatif untuk melepas ketergantungan dengan energi tenaga fosil.

Terdapat beberapa potensi yang sudah mulai dikembangkan seperti energi matahari, angin, gelombang yang telah diaplikasikan termasuk juga di Indonesia. Pilihan-pilihan strategis pada jenis energi yang tepat menjadi penting dan mendesak sebagai motor penggerak industri di masa depan.

(Baca Juga: Bersinergi Membangun Nanoteknologi Nasional)

Proyeksi permintaan energi di Indonesia terus meningkat. Ini seiring dengan pertumbuhan ekonomi, jumlah penduduk, dan meningkatnya kemampuan masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari konsumsi listrik per kapita yang saat ini mencapai 850 KWh dan terus meningkat, atau prediksi tingginya pertumbuhan jumlah dan dinamika transportasi saat ini.

Melalui Kementerian Perindustrian, pemerintah mulai memetakan potensi thorium untuk pembangkit tenaga listrik nuklir. Pembangkit listrik tenaga thorium telah digembar-gemborkan menjadi reaktor listrik yang memanfaatkan tenaga nuklir. Singkatnya, thorium merupakan bahan bakar dari nuklir.

(Baca Juga: Perkembangan Industri 4.0 di Indonesia)

Sementara itu, laju penyediaan energi terbentur terbatasnya kemampuan finansial pemerintah dan besarnya subsidi untuk BBM dan listrik di tengah harga pasar yang fluktuatif karena sampai saat ini masyarakat sangat bergantung dengan energi berbahan fosil.

Laporan dari Greenpeace “Revolusi Energi bagi Indonesia”, yang disusun bersama Engineering Center Universitas Indonesia dan Dewan Energi Terbarukan Eropa, menunjukkan bahwa Indonesia mampu menghasilkan lebih dari 60 persen listrik dari sumber-sumber energi terbarukan pada tahun 2050.

(Baca Juga: Sumber Daya Alam dari Pulau Kalimantan)

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) selaku badan yang ditunjuk pemerintah telah melakukan beberapa kajian terkait lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Daerah yang berpotensi untuk dibangun PLTN, yaitu Kalimantan. Pemilihan Kalimantan didasarkan pada letak geografisnya yang aman dari potensi gempa bumi, ditambah lagi adanya temuan potensi uranium di Kalan, Kabupaten Melawi Provinsi Kalimantan Barat.

Dalam konvensi nasional tentang pemanfaatan energi menekankan bahwa Indonesia sedang bersaing dengan bangsa lain. Untuk itu, harus berani terbuka dan berani berinovasi untuk menjadi bangsa pemenang. Mengambil sikap dalam pengembangan tenaga nuklir menjadi salah satu sikap Indonesia untuk bisa sejajar dengan negara maju lainnya dalam persaingan global.


Diolah dari berbagai sumber