Boonpring Malang
Ekowisata Boon Pring di Malang

NEWSWANTARA – Indonesia juga punya destinasi wisata yang tak kalah asri dan sejuk seperti wisata alam hutan bambu yang ada di negeri Tiongkok, yakni Sumber Andeman atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama ekowisata Boon Pring Andeman.

Lokasinya terletak di lereng Gunung Semeru, tepatnya di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Memang, saat ini Malang sedang gencar menggali potensi wisata di tiap daerahnya.

Malang saat ini sedang gencar-gencarnya menggali potensi wisata di tiap daerahnya. Selain jadi lebih tertata dan mandiri, seluruh destinasi juga diharapkan bisa meningkatkan perekonomian penduduk setempat. Dan tentu saja, memperkenalkan kekayaan dalam negeri yang juga jadi aset wisata nusantara.

Wisata air di Boon Pring

Lokasi Boon Pring cukup mudah dijangkau. Untuk mencapainya, Anda bisa berpatokan pada Masjid Jin Pondok Bihaaru Bahri yang sangat terkenal di Desa Sananrejo. Dari pasar Turen perjalanan yang ditempuh sekitar 8 km menggunakan kendaraan pribadi, atau 40 menit dari Kota Malang. Sementara jika naik kendaraan umum, Anda bisa naik mikrolet lalu turun di pangkalan ojek dekat masjid yang hanya berjarak 3 km dari lokasi.

boonpring malang

Secara menyeluruh, ekowisata Boon Pring memanfaatkan keberadaan embung atau telaga yang berasal dari lima sumber mata air. Yakni Sumber Towo, Seger, Maron, Krecek dan Sumber Gatel. Kelimanya punya keunikan tersendiri.

Sumber Gatel seperti namanya, membuat tubuh gatal ketika berendam di dalamnya, sedangkan untuk penawar gatal ada di Sumber Towo. Sumber air tertua yang dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit. Sumber Seger beda lagi, airnya yang jernih dan segar membuatnya bisa langsung diminum. Sekaligus mengobati sakit linu dan rasa pegal.

Sementara Sumber Maron sering dijadikan penanda bahwa pergantian musim sedang terjadi. Sumber terakhir adalah Sumber Krecek, dinamakan demikian karena suara aliran airnya menimbulkan bunyi ‘krecek-krecek’, dengan volume kecil apapun musimnya.

Dengan adanya telaga luas berkedalaman tiga meter, pemanfaatan embung pun makin beragam. Di antaranya pengembangan budidaya perikanan, juga wisata air bagi masyarakat. Terutama wisata perahu. Mulai dari sepeda kayuh, kapal angsa, juga perahu wisata sudah ada. Anda bahkan bisa mengunjungi Pulau Sekar yang dinamakan dari bunga yang banyak tumbuh di pulau tersebut.

Untuk menjelajah embung menggunakan perahu, wisatawan dikenakan retribusi sesebesar Rp5 ribu per orang. Sementara menyewa kapal angsa 20 menit, dikenakan biaya Rp10 ribu per dua orang. Nantinya uang tersebut digunakan untuk operasional serta perawatan embung.

Hutan bambu yang sejuk

Bukan hanya wisata airnya yang unggul, Embung Boon Pring dinamakan demikian karena berada di area rerimbunan pohon bambu yang tumbuh di wilayah tersebut. Desa yang terkonsep dengan ekowisata ini dulunya hanyalah kebun bambu, selanjutnya ada kegiatan konservasi yang dilakukan masyarakat. Hasilnya pada tahun 1978 dibangun embung. Namun warga lebih mengenalnya dengan Boon Pring.

Saat ini telah ada 65 jenis tanaman bambu yang ditanam di hutan bambu, memanfaatkan lahan ekowisata seluas 36,8 hektare. Sejak awal tempat wisata ini mengusung konsep ekowisata, kelestarian alam serta melindungi sumber mata air. Pengunjung bisa belajar atau melihat segala jenis bambu di tempat tersebut.

Selain untuk wisata, hutan bambu juga sering dijadikan tempat penelitian. Sebabnya ada beberapa jenis bambu langka yang juga dibibitkan di Boon Pring.

Berikan Komentar Anda

avatar