Hari Raya Waisak di Candi Borobudur
Pemandangan saat malam perayaan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur, Magelang Provinsi Jawa Tengah. [Pict : istimewa]

NEWSWANTARA – Festival lampion telah menjadi agenda tahunan pengelola wisata Candi Borobudur. Saat hari raya Waisak tiba, festival ini menjadi rangkaian perayaan menyambut hari besar umat Budha. Bahkan umat Budha seluruh Indonesia hingga Asia berkumpul di Candi Borobudur untuk melaksanakan perayaan Waisak.

Tradisi ini telah menjadi bagian dalam rangkaian ritual dan upacara agama Budha di Borobudur. Borobudur yang merupakan monumen warisan dunia UNESCO dan diakui sebagai candi Budha terbesar di dunia menjadi lokasi dalam perayaan hari raya Waisak. Acara ini tentunya sangat menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Borobudur pada malam harinnya.

Baca juga : Desa Siompu Dengan Penduduknya Yang Bermata Biru

Acara diawali dari upacara untuk mendapatkan air suci dari mata air murni di Jumprit di Kecamatan Temanggung. Tanggal 27 Mei, ritual akan diikuti dengan menyalakan obor Waisak yang nyala apinya diambil dari api abadi di Mrapen, di desa Grobogan, di daerah Purwodadi, Jawa Tengah.

Api dan air suci kemudian disimpan di Candi Mendut untuk diarak dan digunakan saat upacara di Borobudur pada perayaan hari Waisak tiba. Upacara tersebut akan dimulai dengan doa-doa di Candi Mendut. Peziarah akan berjalan bersama ke kuil Borobudur yang membawa api abadi, simbol air suci dan simbol Budha yang telah dijaga ketat di Candi Mendut.

Baca juga : Merasakan Nuansa Ramadhan di Tanah Minang

Api abadi dan air suci kemudian ditempatkan di altar utama yang telah didirikan di sisi barat Candi Borobudur. Pada tanggal 29 Mei, puncak ritual Waisak akan dimulai di Vihara Githa. Para bhakta kemudian akan melanjutkan dengan pradaksina atau ritual sembahyang yang berputar tiga kali mengelilingi candi Borobudur.

Ritual tersebut dilakukan dengan bergerak searah jarum jam dari timur ke barat. Bagian integral dari ritual tersebut adalah menyalakan lilin dan nyanyian Puja Ghata Visaka oleh jemaat. Menjelang detik terakhir momen Waisak, pemuja akan bermeditasi dalam spiritualitas yang mendalam diikuti oleh berkat yang diberikan oleh Bhikkhu Mahathera dan Bhiksu Mahasthavira.

Baca juga : Keunggulan Aceh Sebagai Destinasi Wisata Halal

Menandai puncak rangkaian ritual Waisak, sekitar 1.000 lentera Puja akan dilepaskan ke langit yang melambangkan pencerahan untuk seluruh alam semesta. Hal yang ditungu-tunggu pun tiba yang telah menjadi agenda tahunan di bulan Mei. Langit Borobudur seketika cerah yang dipenuhi lentera. Pemandangan yang setahun sekali pada langit Borobudur.

Waisak memperingati tiga peristiwa terpenting dalam kehidupan Buddha Siddharta Gautama yang dikenal dengan nama Tri Suci Waisak. Acara penting pertama itu adalah Kelahiran Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 SM.

Episode kedua adalah pencerahan (nirvāṇa) di mana Pangeran Siddharta menjadi Buddha di Bodhgaya pada usia 35 tahun 588 SM, dan yang ketiga adalah kematian (Parinirvāna) dari Buddha Gautama di Kusinara pada usia 80 tahun di tahun 543 SM. Peristiwa inilah yang kemudian dikenal sebagai hari Waisak bagi umat Budha.


Diolah dari berbagai sumber 

Berikan Komentar Anda

avatar