Pagoda sembilan lantai
Pagoda sembilan lantai di Kemaro [Istimewa]

NEWSWANTARA – Bangunan yang ada pulau Kemaro ini seakan membawa kita pada suasana negeri tirai bambu. Bernuasa arsitektur China sejenak melupakan dimana sebenarnya bangunan ini berdiri.

Letaknya yang berada di tengah Sungai Musi dengan legenda cinta menjadikannya semakin memancing antusias bagi setiap orang untuk menyimak kisahnya. Pulau kemaro terletak sekitar 5 kilometer dari Jembatan Ampera.

Alkisah putri raja bernama Siti Fatimah dan saudagar Tionghoa bernama Tan Bun An baru saja pulang dari Tiongkok. Setibanya di Sungai Musi, Tan Bun An kaget dengan isi Guci yang ternyata sayur-sayuran berupa sawi asin. Tanpa pikir panjang, Tan Bun malah menendang guci ke dalam sungai tanpa alasan yang jelas.

Dari kesembilan guci yang dibawa, guci terakhir pecah di dek kapal yang ternyata berisi emas. Tan Bun An lalu menceburkan diri untuk mencari guci-guci lainnya. Namun saudagar Tionghoa itu tidak muncul ke purmukaan.

Rasa kecewa dan menyesal membuat sang anak raja memutuskan untuk menerjunkan diri ke sungai dan tenggelam. Sang putri pun ikut menerjunkan diri ke sungai dan juga tenggelam.

Hal terakhir yang dipesankan Siti Fatimah adalah apabila ada gundukan tanah di Sungai Musi maka disitu adalah makamnya. Kisah cinta dari pulau di tengah Sungai Musi ini kini menyedot pengunjung dari berbagai kota maupun luar negeri. Terlebih pada saat perayaan Cap Go Meh yang selalu meriah tiap tahunnya.

Keunikan Pulau Kemaro

Pulau Kemaro
Sebagian besar bangunan yang ada di Pulau Kemaro bergaya arsitektur khas negeri Tirai Bambu [Detik/Afif]

Pulau Kemaro adalah salah satu destinasi wisata yang sering dikunjungi oleh para wisatawan di Palembang, Sumatera Selatan. Pulau ini terkenal dengan Vihara Hok Tjing Rio yang merupakan tempat sembahyang bagi sebagian besar warga Palembang keturunan Tionghoa.

Vihara Hok Tjing Rio yang terletak di tengah pulau dan berdiri gagah merupakan sebuah bukti bahwa budaya Tionghoa tumbuh dan berkembang di Palembang. Di dekat vihara terdapat pohon cinta dari legenda putri raja Siti Fatimah dan saudagar Tionghoa bernama Tan Bun An pada zaman Kerajaan Palembang.

Pulau Kemaro di tengah Sungai Musi di Palembang ini mempunyai mitos pohon cinta. Konon, bagi siapa saja yang menulis namanya dan pasangannya di pohonnya bakal memiliki cinta yang abadi.

Dari pesisir Sungai, legenda setempat menyampaikan bahwa janganlah terburu-buru dalam mengambil keputusan. Salah mengambil keputusan bisa menyebabkan penyesalan yang besar. Suatu pesan moral yang tersirat dari legenda di Pulau Kemaro yang dapat dijadikan sebagai prinsip dalam menjalani kehidupan.

Berikan Komentar Anda

avatar