pict : baubautourism.com

NEWSWANTARA – Peningggalan Kesultanan Buton yang masih dapat dilihat hingga saat ini yaitu Benteng Kerajaan Buton. Benteng ini dinobatkan sebagai benteng termegah di dunia. Dengan predikat itu, kesultanan buton pernah memiliki pertahanan yang kuat serta kemegahannya menunjukkan kemajuan peradaban pada saat itu.

Benteng Keraton Buton, terletak di Bau-Bau, Sulawesi Tenggara yang merupakan salah satu benteng terluas di dunia ditetapkan menjadi Kawasan Khusus Nasional. Rekomendasi untuk penetapan kawasan khusus tersebut telah ditandatangani oleh Gubernur Sulawesi Tenggara, dengan nomor surat; 640/3365/2007.

Lawana Kalau
Lawana Kalau pict : baubautourism.com

Buton adalah sebuah pulau dengan letak strategis di jalur pelayaran yang menghubungkan pulau-pulau penghasil rempah di kawasan timur, dengan para pedagang yang berasal dari kawasan barat Nusantara. Karena posisinya ini, Buton sangat rawan terhadap ancaman eksternal, baik dari bajak laut maupun kerajaan asing yang ingin menaklukkannya. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, maka kemudian dibentuk sistem pertahanan yang berlapis-lapis.

Lapis pertama ditangani oleh empat Barata, yaitu Wuna, Tiworo, Kulisusu dan Kaledupa. Lapis kedua ditangani oleh empat Matana Sorumba, Wabula, Lapandewa, Watumotobe dan Mawasangka, sementara lapis ketiga ditangani oleh empat orang Bhisa Patamiana (pertahanan kebatinan).

Baluarana gama pict : baubautourism.com
Baluarana gama pict : baubautourism.com

Untuk memperkuat sistem pertahanan berlapis tersebut, kemudian dibangun benteng dan kubu-kubu pertahanan. Pembangunan benteng dimulai pada tahun 1591-1596 oleh Sultan Buton III, La Sangaji yang bergelar Sultan Kaimuddin. Tembok keliling benteng panjangnya 2.740 meter, melindungi area seluas 401.900 meter persegi. Tembok benteng memiliki ketebalan 1-2 meter dan ketinggian antara 2-8 meter, dilengkapi dengan 16 bastion dan 12 pintu gerbang. Lokasi benteng berada di daerah perbukitan berjarak sekitar 3 kilometer dari pantai.

baluarana gundu-gundu pict : baubautourism.com
baluarana gundu-gundu pict : baubautourism.com

Awalnya benteng ini di bangun dalam bentuk tumpukan batu yang tersusun mengelilingi komplek istana sebagai tujuan untuk membuat pagar pembatas antara komplek istana dengan perkampungan masyarakat dan juga sebagai benteng pertahanan.

Saat masa pemerintahan Sultan Buton IV yang bernama La Elangi atau Sultan Dayanu Ikhsanuddin, benteng yang berasal dari tumpukan batu tersebut dijadikan bangunan permanen. Keberadaan dari benteng tersebut, dalam kurun waktu dari empat abad, Kesultanan Buton dapat bertahan juga terhindar dari ancaman para musuh.

Benteng Keraton Buton mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guiness Book Record yang dikeluarkan bulan september 2006 sebagai benteng terluas di dunia dengan luas sekitar 23,375 hektar.

Berikan Komentar Anda

avatar