Subak
Sistem Subak yang masih terjaga saat terlihat begitu indah. sistem yang telah menjadi budaya bercocok tanam masyarakat di Bali. [Pict : Istimewa]

NEWSWANTARA – Indonesia yang disebut sebagai negara agraris sudah menjadi identitas yang cukup melekat bagi bangsa ini. Hal ini tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, yang memberi arti penting dalam menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia.

Sistem pertanian di Indonesia sempat merasakan betapa sejahterahnya negeri ini ketika mampu untuk swasembada beras. Seperti halnya sistem subak, sistem irigasi khas Bali ini merupakan metode pengairan sawah tradisional yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Keberadaan subak merupakan manifestasi dari filosofi/konsep Tri Hita Karana. Kata ‘Tri’ yang artinya tiga, ‘Hita’ yang berarti kebahagiaan/kesejahteraan dan ‘Karana’ yang artinya penyebab. Disimpulkan bahwa istilah Tri Hita Karana berarti tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan kesejahteraan.

Baca Juga: Melihat Takjub Keunikan Desa Wae Rebo Sebagai Warisan Budaya Dunia

Kata “Subak” sendiri merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa Bali pertama kali dilihat di dalam prasasti Pandak Bandung tahun 1072 M. Kata subak tersebut mengacu pada sebuah lembaga sosial dan keagamaan yang demokratis dari petani dalam menetapkan penggunaan air irigasi untuk pertumbuhan padi.

Sebagai suatu metode penataan hidup bersama, subak mampu bertahan selama lebih dari satu abad karena masyarakatnya taat kepada tradisi leluhur. Pembagian air dilakukan secara adil dan merata, segala masalah dibicarakan dan dipecahkan bersama, bahkan penetapan waktu menanam dan penentuan jenis padi yang ditanam.

Sanksi terhadap berbagai bentuk pelanggaran akan ditentukan sendiri oleh warga melalui upacara atau ritual yang dilaksanakan di pura. Harmonisasi kehidupan seperti inilah yang menjadi kunci utama lestarinya budaya subak di pulau dewata. Suatu hal yang menjadi contoh untuk terus menjaga peninggalan leluhur.

Baca Juga: Belajar Dari Budaya Makepung

Subak juga dikenal sebagai sistem teknologi yang sudah menjadi budaya di Bali. Subak sebagai metode teknologi dari budaya asli petani Bali. Fasilitas yang utama dari irigasi subak (palemahan) untuk setiap petani anggota subak adalah berupa pengalapan (bendungan air), jelinjing (parit), dan sebuah cakangan.

Suatu lokasi bidang sawah terdapat dua atau lebih cakangan yang saling berdekatan. Ketinggian cakang dibuat sama akan tetapi perbedaan lebar lubang cakangan masih dapat ditoleransi yang disesuaikan dengan perbedaan luas bidang sawah garapan petani. Hal ini dilakukan untuk memberi rasa adil bagi para petani.

Sawah, tanaman padi dan air mempunyai peranan penting dalam sistem irigasi subak, bahkan dikaitkan dengan aspek religius. Ketiganya berhubungan dengan kekuasaan Dewi Sri (Dewi kesuburan dan kemakmuran). Oleh karena itu subak tidak semata hanya mengatur masalah teknis pengaturan dan pembagian air semata, tetapi juga aspek sosial dan religius (agama). ©nws

Berikan Komentar Anda

avatar