Pict : Iinjayanthi.wordpress.com

NEWSWANTARA – Perang Pandan, tradisi yang dilakukan oleh sepasang pemuda yang satu sama lain akan saling melukai dengan daun pandan yang memiliki duri dan seorang bertugas sebagai penengah layaknya wasit.

Alat utama dalam tradisi ini adalah Tameng atau perisai yang biasanya terbuat dari bambu atau rotan dan daun pandan yaitu tumbuhan semak yang daunnya memiliki duri-duri yang sangat tajam. Pertandingan akan berakhir setelah salah satu peserta sudah menyerah atau dirasa sudah cukup oleh pemimpin pertandingan.

Tajamnya duri pandan yang dipakai dalam tradisi ini maka hampir semua peserta akan tergores dan mengucurkan darah, setelah acara selesai semua peserta akan diobati dengan obat tradisional yang telah disiapkan dan biasanya terbuat dari parutan kunyit dengan ditambahkan minyak kelapa.

Akhir dari tradisi ini adalah peserta maupun masyarakat desa akan menyantap hidangan yang telah tersedia secara bersama-sama (megibung) dan disini terlihat kebersamaan dan kebahagian yang begitu kental.

Tradisi perang pandan atau dalam bahasa Bali disebut dengan Mekare-kare dilakukan oleh pemuda dengan berpakaian adat Bali dengan bertelanjang dada. Tradisi ini diawali dengan melakukan ritual mengelilingi desa untuk memohon perlindungan dan keselamatan untuk sukses acara ini diselenggarakan.

Baca Juga : modal kuat indonesia pada bidang pariwisata

Kegiatan upacara ritual ini diadakan tiap tahun bulan juni di Desa Tenganan, yang terletak di 70 km timur Denpasar Bali lebih kurang 70 menit menggunakan kendaraan bermotor, desa ini masuk salah satu desa tua di Bali, desa ini disebut Bali Aga.

Lokasi desa yang dikelilingi bukit, sementara bentuk desa sendiri seperti layaknya sebuah benteng yang hanya mempunyai empat pintu masuk dengan sistim penjagaan, sehingga lebih memudahkan untuk tahu siapa saja yang datang dan pergi dari desa tersebut.

Konon menurut cerita, pada zaman dahulu kawasan Tenganan dan sekitarnya diperintah oleh seorang raja bernama Maya Denawa yang lalim dan kejam, ia bahkan menjadikan dirinya sebagai Tuhan dan melarang orang Bali melakukan ritual keagamaan, mendengar itu para dewa di surga pun murka, lalu para dewa mengutus Dewa Indra untuk menyadarkan atau membinasakan Maya Denawa, dengan cara mengangkat Dewa Indra sebagai panglima perang atau pemimpim pertempuran.

Melalui pertempuran sengit dan memakan korban jiwa yang tidak sedikit, akhir nya Maya Denawa dapat kalahkan. Kemenangan dewa indra yang dinyatakan dengan ritual adat perang pandan oleh masayarat Bali Aga merupakan bentuk penghormatan jasa nenek moyang.

Nilai sosial yang masih pegang teguh oleh masayarakat Bali Aga menjadi daya tarik tersendiri untuk menarik minat wisatawan. Kebudayaan yang dilihat dapat dilihat di Desa Bali Aga merupakan bagian dari kekayaan budaya yang dimiliki oleh indonesia untuk terus dijaga dan dilestarikan.


Sumber : wisatabaliaga.com

Berikan Komentar Anda

avatar