Tokoh Punakawan
Punakawan ditampilkan sebagai kelompok penceria dengan humor-humor khasnya masing-masing serta memiliki karakter yang patut untuk diselami lebih dalam. (Foto: Istimewa)

NEWSWANTARA – Wayang kulit merupakan salah satu seni pertunjukan yang cukup melekat dalam kehidupan bangsa Indonesia khususnya di tanah Jawa. Hal ini terjadi karena pertunjukan wayang jenis ini memiliki beragam kisah yang menarik. Bahkan beberapa kisah diambil dari kisah sastra kuno seperti kisah Ramayana hingga Mahabarata.

Satu hal yang cukup menarik dalam seni wayang di Indonesia yakni terdapat beberapa tokoh wayang yang khas dan menghadirkan berbagai pesan moral. Salah satunya ialah tokoh Punakawan yang sengaja diciptakan oleh pujangga Jawa.

(Baca Juga: Wayang, Warisan Budaya Mahakarya Nusantara)

Tokoh Punakawan pertama kali muncul dalam karya sastra Ghatotkacasraya karangan dari Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri. Sementara itu, pada masa penyebaran agama Islam di tanah Nusantara, pewayangan tersebut digunakan oleh Sunan Kalijaga sebagai sarana dakwah, agar manusia senantiasa mengingat kepada Tuhan Sang Pencipta alam semesta.

Punakawan berasal dari kata Pana yang artinya paham, dan kata kawan yang berarti teman. Tokoh wayang yang terdiri dari 4 sosok yakni Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong ini memang menjadi sajian yang dinanti dalam berbagai pertunjukan wayang semalam suntuk. Pasalnya,kisah tokoh Punakawan terbilang lucu dan memiliki pesan tersendiri. Lalu, seperti apa karakter tokoh Punakawan tersebut?

Semar

Semar
Semar. (Foto: Istimewa)

Semar merupakan nama tokoh punakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Wayang ini digambarkan sebagai sosok bapak yang sabar dan bijaksana. Kepala dan pandangan Semar selalu menghadap ke atas sebagai tanda bahwa manusia harus ingat pada Tuhan.

Dalam berbagai pertunjukan wayang termasuk dalam wayang orang, Semar selalu menggunakan kain Semar Parangkusumorojo yang merupakan simbol penegakkan keadilan dan kebenaran di muka bumi. Tokoh inilah yang biasanya memberikan nasihat yang bijaksana untuk keluarga Pandawa.

Gareng

Gareng
Gareng. (Foto: National Museum of World Cultures)

Dalam beberapa kisah wayang Jawa, Tokoh Gareng merupakan anak dari Jin bernama Gandarwa yang diangkat sebagai anak oleh Semar. Gareng memiliki nama lain Pancalparnor yang berarti menolak godaan duniawi. Tokoh wayang kulit ini digambarkan memiliki kaki yang pincang sebagai tanda untuk lebih berhati-hati dalam berbuat sesuatu.

Selain itu, cacat fisik Gareng yang lain adalah tangannya yang ciker atau patah. Ini adalah sanepa (makna) bahwa Gareng memiliki sifat tidak suka mengambil hak milik orang lain. Diceritakan juga bahwa tumit kanannya terkena semacam penyakit bubul.

Halaman Selanjutnya →