Tradisi Maen Jaran
Joki cilik yang berusaha memacu kudanya menjadi yang terdepan [Istimewa]

NEWSWANTARA – Permainan tradisional yang ditumbuh kembangkan di masyarakat Sumbawa ini telah ada pada jaman kolonial Belanda. Dahulu kala, bagi siapa saja yang mempunyai kuda yang besar dan siap diadu kecepatannya di arena tanah yang dibuat khusus akan dipersilakan untuk memacu kudanya.

Baca Juga : 

Kini telah menjadi permainan tradisonal yang dilombahkan untuk mengukur kemampuan kuda di berbagai daerah se-Pulau Sumbawa bahkan dari luar pulau.

Kuda peserta lomba yang kalah akan langsung gugur tidak boleh mengikuti pertandingan selanjutnya. Para pemenangnya akan bertanding lagi hingga memunculkan satu pemenang.

Selain menjadi atraksi hiburan, tradisi ini juga menjadi ajang meningkatkan harga jual kuda, karena kuda yang biasanya menjadi pemenang harga jualnya menjadi lebih tinggi. Kuda pacu akan diberi hiasan seperti jombe tribut yang dipasang di leher dan di muka kuda. Kuda pacu mengikuti ritual khusus yang dipimpin oleh sandro.

Fungsi ini untuk mempengaruhi pengaruh buruk yang akan terjadi baik kepada kuda maupun kepada joki. Membentengi joki dan kuda sangat penting karena menjadi penentu dalam penampilannya di lintasan. Hal unik dalam perlombaan pacuan kuda di Sumbawa terletak pada jokinya yang masih cilik.

Para joki (pemain) yang mayoritas cilik ini dengan berani memacu kudanya hingga garis finish. Ini yang menjadi sorotan, para joki cilik dalam pacuan kuda di Sumbawa dengan usianya yang masih cukup belia. Akan tetapi mereka telah dibekali dari sandro dan biasanya kemampuan para joki telah diwarisi secara turun-temurun dari orang tuanya.

Peralatan yang digunakan dalam permainan pacuan kuda terbagi menjadi dua bagian, yaitu peralatan yang dikenakan oleh joki dan kuda pacuan. Terdiri dari helm, baju lengan panjang, sarung kepala, rompi, dan cambuk rotan yang digunakan joki untuk memacu kuda hingga garis finish.

Pacuan kuda atau biasa disebut masyarakat setempat sebagai main jaran mengandung nilai-nilai luhur jika dicermati dengan seksama. Sikap kerja keras para joki cilik memacu kuda pacuannya agar dapat memenangkan permainan membuat dada terasa sesak. Perasaan cemas bercampur bangga terpatri kepada joki yang berhasil pertama menyentuh garis finish.

Keberanian para joki cilik ini bahkan menjadi sorotan dunia atas apa yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Sumbawa dalam tradisi main jaran. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para joki yang dipertunjukkan seakan mengisyaratkan untuk bisa menjadi contoh bagi anak muda lainnya, terlebih bagi mereka yang suka mengeluh dengan kekurangannya. (©nws)

Berikan Komentar Anda

avatar