NEWSWANTARA – Kawasan konservasi yang dikenal dengan Taman Nasional Baluran (TNB) terdaftar secara administratif ke dalam wilayah Kabupaten Situbondo. Berbatasan langsung dengan kabupaten Banyuwangi tepatnya di Desa Wonorejo Kecamatan Banyuputih.

Luasnya yang mencapai 25.000 hektare dengan julukan Africa Van Java, kawasan pelestariaan alam yang mempunyai ekosistem asli dengan 444 jenis tumbuhan dan keberagaman faunanya yang dikelompokkan kedalam ordo mamalia (28 jenis), aves (196 jenis), pisces dan reptilia.

Kawasan ini dikelola menggunakan sistem zonasi dengan tujuan penelitian, ilmu pengetahuan serta sebagai kawasan dalam menunjang kegiatan budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Dengan julukannya sebagai Africa Van Java menjadikan Taman Nasional Baluran memilki daya darik tersendiri bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Keunikan ini menunjang dalam mendukung Taman Nasional Baluran menjadi kawasan yang konservatif serta edukatif hingga mampu menjadi tujuan destinasi pariwisata. Kawasan yang disebut juga sebagai miniatur hutan Indonesia.

Banteng Jawa, salah satu satwa yang hidup di kawasan Taman Nasional Baluran (nationalgeographic).
Banteng Jawa, salah satu satwa yang hidup di kawasan Taman Nasional Baluran (nationalgeographic).

Hutan di Taman Nasional Baluran merupakan perwakilan dari beberapan hutan yang dimiliki Indonesia. Baluran merupakan sebuah bentuk perwakilan dari ekosistem hutan yang terdiri dari tipe vegetasi savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, dan hutan rawa.

Dari luasnya padang Savana Bekol, sampai lebatnya hutan hijau Evergreen Forest, hingga keindahan bawah laut di Bama. Ada juga beberapa destinasi lain seperti Gua Jepang, Curah Tangis, Sumur Tua, Manting, Dermaga, Kramat, Kajang, Balanan, Lempuyang, Talpat, Kacip, Bilik, Sejileh, Teluk Air Tawar, Batu Numpuk, Pandean atau Candi Bang.

Mengamati kehidupan hewan liar di Taman Nasional Baluran, juga merupakan sebuah pengalaman tersendiri. Selain keindahan alam beberapa destinasi yang sudah ada, siklus tiga tahunan menjadi hal menarik untuk disaksikan. Bunga kapasan dan akasia mengambil alih lahan hidup rumput lamuran yang menjadi vegetasi primer sabana.

Tanaman setinggi satu meter ini dengan mudah menyembunyikan kawanan rusa, banteng, dan merak di baliknya. Tidak seperti dahulu, dimana segala jenis satwa bebas terlihat di atas padang luas. Ini semacam siklus tiga tahunan yang memaksa Baluran untuk berganti kulit, dari cokelat kering menjadi hijau segar.

Taman Nasional baluran sempat mengalami kejayaan dimana pada masa itu sempat dikunjungi oleh tokoh terkenal dunia. Diantaranya seperti Kaisar Jepang, Syah Iran, dan Pangeran Philips pernah ke TNB hanya untuk safari keliling sabana dan melihat ayam hutan. Hingga saat itulah alam Baluran disejajarkan dengan Taman Nasional Serengeti di Tanzania, Afrika.


Sumber: Balurannationalpark

Berikan Komentar Anda

avatar