New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA)
New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA). (Foto: Istimewa)

NEWSWANTARA – Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan jejak tsunami masa lampau di sekitar lokasi Bandara internasional Kulon Progo, Yogyakarta. Atas temuan tersebut LIPI telah membuka datanya dan memaparkan hasil temuannya ke pihak pembangun bandara. Bandara baru ini memiliki panjang landasan 3.250 meter serta terminal dengan luas 219.000 meter persegi yang mampu menampung 20 juta penumpang per tahun.

New Yogyakarta International Airport (NYIA) berada di tepi Pantai Glagah, Kulon Progo. Tepatnya di Kecamatan Temon, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bandara ini digadang-gadang menjadi salah satu bandara terbesar di Indonesia dan beroperasi penuh Januari 2020.

(Baca Juga: Membuka Jalur Selatan Untuk Ruang Industri Penerbangan Indonesia)

Riset paleotsunami atau tsunami purba dilakukan oleh peneliti LIPI serta mahasiswa untuk menyusuri jejak tsunami masa lalu berbasis ilmu Geologi di sepanjang selatan Pulau Jawa. Mulai dari Lebak di Banten hingga Pulau Bali.

Riset paleotsunami tersebut dilakukan dengan cara membuat paritan untuk menyingkap lapisan tanah untuk mencari bukti apakah benar material yang didapatkan berasal dari laut yang kemungkinan adalah tsunami.

(Baca Juga: Mengenal Sesar Palu Koro, Patahan Yang Membelah Sulawesi Menjadi Dua)

Sekitar dua kilometer sebelah timur lokasi bandara Kulon Progo, peneliti LIPI mendapatkan bukti lapisan pasir tsunami purba dari dua titik galian. Temuannya di posisi 1,5 kilometer dari garis pantai yang sekarang.

Lapisan yang bawah di kedalaman sekitar 120 sentimeter dan sudah ditentukan umurnya dengan karbon-14. Pada lapisan tersebut diperkirakan telah terjadi tsunami sekitar 1.800 tahun lalu. Lapisan tanah bukti tsunami itu mengandung sisa makhluk laut berukuran mikro yang sangat melimpah, yaitu foraminifera, radiolaria dan ostrakoda.

(Baca Juga: Membuka Jalur Selatan Untuk Ruang Industri Penerbangan Indonesia)

Sementara lapisan kedua lebih dangkal pada kedalaman kurang dari satu meter. Kandungannya sisa-sisa makhluk laut berukuran mikro juga namun belum dianalisis umurnya. Lapisan kedua tersebut diduga merupakan endapan tsunami yang terjadi 400 tahun lalu.

Temuan bukti tsunami di lapisan pertama yang terjadi sekitar 1800 tahun silam di Kulon Progo, menurut peneliti LIPI sama dengan temuan lapisan tsunami di Lebak, Banten, dan seumuran. Jika diasumsikan dua lapis tsunami itu dari kejadian yang sama, maka setidaknya panjang rupture (sobekan patahan) sekitar 500 kilometer. Rupture sepanjang 500 klilometer tersebut berpotensi menghasilkan gempa mendekati skala magnitudo 9.

Perkiraan itu mengacu pada gempa dan tsunami Tohoku Jepang pada 2011 dengan skala magnitudo 9 yang disebabkan rupture sepanjang sekitar 500 kilometer. Sementara dari temuan lapisan tsunami yang lebih dangkal dengan perkiraan kejadian 400 tahun silam, ada kemungkinan adalah kejadian serentak yang mengendapkan pasir tsunami di Lebak, Ciletuh, Pangandaran, Cilacap, Pacitan dan Lumajang.

Tsunami itu diperkirakan melanda pantai sepanjang lebih dari 700 kilometer. Kemungkinan tsunami itu dipicu oleh gempa dengan rupture sekitar 700 km atau lebih, yang berarti berhubungan dengan gempa berskala magnitudo 9 atau lebih. Gempa Aceh 2004 yang berskala magnitudo 9.3 dipicu oleh rupture sepanjang 1.300 kilometer.