(riaumandiri.co)

NEWSWANTARA – Pemerintah Kabupaten Solok Selatan berencana mencatatkan salah satu rumah adat, Rumah Gadang 21 ruang di Museum Rekor Indonesia (MURI). Rumah Gadang ini terletak di Nagari Abai kecamatan Sangir Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan. Rumah Gadang 21 ruang ini salah satu Rumah Gadang terpanjang di Sumatera Barat.

Rumah Gadang merupakan peninggalan kebudayaan masyarakat kabupaten Solok Selatan yang menjadi aset bersejarah serta memiliki nilai–nilai kesenian yang tinggi. Di Kabupaten Solok Selatan banyak ditemukan Rumah Gadang yang berdiri kokoh hingga masyarakat sekitar menjuluki sebagai Nagari Seribu Rumah Gadang.

Rumah Gadang di Kabupaten Solok Selatan tersebar di tujuh Kecamatan, 39 di Sangir, 34 di Sangir Jujuan, dan 68 unit di Sangir Batang Hari, 18 unit  Sangir Balai Janggo, 57 unit di Koto Parik Gadang Diateh, 190 unit di Sungaipagu, 43 unit di Pauhduo.

Baca Juga:

Rumah Gadang Nagari Abai dibangun secara gotong royong yang memakan waktu mulai dari tahun 1972 hingga 1975. Rumah yang memilki 21 ruang, 15 gonjong (lancipan atap rumah) dengan panjang 95 meter bernuasa arsitektur tradisional yang unik. Setiap ruangan terbagi menjadi dua bilik untuk ruang tidur dari 21 ruang yang ada.

Sewaktu dibangun, satu gonjong digunakan sebagai lambang Rumah Gadang terpanjang dan pusat perundingan niniak mamak, suatu lembaga adat yang terdiri dari beberapa orang penghulu yang berasal dari berbagai klan yang ada dalam suku-suku di Minangkabau. 14 gonjong lain melambangkan jumlah kaum pasukuan yang ada di Nagari Abai.

(sumateratime.com)
(sumateratime.com)

Sewaktu dibangun oleh pasukuan, Rumah Gadang 21 ruang ini beratap ijuk, dan tiang- tiangnya memakai pasak kayu. Dinding dibuat bambu yang sudah disulam erat. Semua ruang kamar tidur dibangun menggunakan sekat-sekat pembatas yang terbuat dari apit bambu dan kayu.

Rumah Gadang ini juga berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan acara adat dan kesenian batombe (seni berbalas pantun) serta pesta perkawinan. Bila ingin berkunjung ke Rumah Gadang 21 Ruang ini, maka harus menempuh sekitar 40 km dari ibukota Kabupaten Solok Selatan atau bila dari arah Muara Labuh, harus menempuh 72 km.

Kondisi Rumah Gadang kini sudah mengalami moderenisasi dengan perubahan penggunaan pada atap yang telah berlapiskan seng–seng, serta dinding–dinding bangunan yang digantikan dengan semen. Keadaan tersebut tentunya tidak diinginkan mengingat para wisatawan tidak dapat menyaksikan keindahan Rumah Gadang dengan arsitektur tradisionalnya.

Perubahan tersebut lebih dikarenakan pemerintah setempat kurang memperhatikan dalam memelihara serta mengembangkan potensi wisata budaya Rumah Gadang yang telah terkenal hingga ke mancanegara. Perlunya perhatian khusus untuk menjaga kelestarian aset budaya Rumah Gadang 21 ruang ini menjadi perhatian lebih generasi penerus. Kalau bukan kita siapa lagi!

Berikan Komentar Anda

avatar