Pict : defense-studies.blogspot.com

NEWSWANTARA – Sebuah kapal kebanggaan masyarakat sulawesi yang telah diakui dari perjalanan mengitari samudra berlangsung secara turun-temurun. Lamba atau Lambo, istilah untuk Kapal Pinisi yang saat ini telah mengalami perkembangan seiring dengan berkembang pesatnya teknolgi zaman sekarang.

Pinisi Lamba Modern (PLM) merupakan salah satu kapal yang telah dilengkapi dengan motor diesel sebagai tenaga penggeraknya. Kapal yang menjadi kebanggaan masyarakat sulawesi juga kebanggan negeri Indonesia yang diwarisi untuk terus lestarikan.

Ketenaran dan ketangguhan kapal ini sudah terdengar di seluruh dunia. Sudah sejak sekitar abad ke-14, Kapal Pinisi sudah berlayar dan menjelajah samudra di seluruh dunia. Keistimewaan Kapal Pinisi terdapat pada proses pembuatannya yang dibuat oleh tangan-tangan ahli tanpa menggunakan bantuan peralatan modern.

Seluruh bagian-bagian kapal terbuat dari kayu yang dirangkai tanpa menggunakan paku. Meskipun demikian, Kapal Pinisi telah terbukti keistimewaannya dengan menaklukkan samudera yang mampu menjelahi negara-negara di belahan dunia.

Kapal Pinisi merupakan satu-satunya kapal kayu besar dari sejarah lampau yang masih diproduksi hingga sekarang. Adalah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, tempat dimana Kapal Pinisi masih dibuat sampai saat ini.

Pict : aravillage.blogspot.com
Pict : aravillage.blogspot.com

Letaknya kira-kira 150 Km perjalanan darat dari Makassar, mengarah ke pesisir pantai tenggara Sulawesi Selatan. Tana beru, pesisir pantai inilah masih bisa dijumpai tangan-tangan ahli pembuat kapal kayu Pinisi. Keahlian membuat kapal ini dimiliki oleh suku-suku di Sulawesi yang tinggal di daerah pesisir, yaitu suku Bugis Makassar.

Keahlian ini diturunkan selama beratus-ratus tahun dari jaman nenek moyang mereka hingga sekarang. Kapal ini berukuran panjang sekitar 15-40 meter, ukurannya tergantung dari si pemesan. Dibuat dengan menggunakan peralatan yang sederhana, dan dikerjakan oleh tangan-tangan ahli sebanyak 10 orang (biasanya disebut sebagai Sawi) yang dipimpin oleh 1 orang.

Seseorang ini biasa disebut sebagai Punggawa (kepala tukang). Bahan utama untuk membuat kapal ini biasanya dari kayu jati, kayu besi, atau kayu jati. Papan kayu saling disatukan dan dipaku dengan menggunakan kayu sisa pembuatan badan kapal. Proses pembuatan kapal ini tergantung dari ukuran kapal, biasanya memakan waktu selama 1-2 tahun. Semakin besar kapal yang dibuat, maka waktu pembuatannya akan lebih lama.

Sebagai sebuah hasil kebudaya yang diwariskan nenek moyang, pembuatan kapal pinisi disertai dengan upacara adat setempat. Mulai dari pemilihan kayu, penebangan, awal pembuatan, hingga peluncuran kapal tidak lepas dari upacara adat.

Rangkaian upacara ini bertujuan agar kapal yang dibuat bisa bertahan lama hingga kayunya lapuk juga keselamatan ketika berlayar di lautan bebas. Seorang Punggawa memimpin proses pembuatan Kapal Penisi melakukannya tanpa menggunakan catatan. Catatan seperti perhitungan ukuran, desain kapal dan detail-detailnya tidak direkam dalam bentuk tulisan ataupun bentuk lain.

Semua pengetahuan yang dimiliki seorang Punggawa tersimpan di kepalanya, dan diturunkan selama beratus-ratus tahun lewat lisan. Oleh karena itu, Bulukumba mendapatkan julukan sebagai Bumi Para Ahli Pembuat Perahu.

Berikan Komentar Anda

avatar