Pict : rahmanopick.blogspot.co.id

NEWSWANTARA – Jumlah penduduk dunia setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Di wilayah ASEAN sendiri, Berdasarkan data yang di rilis pada KTT ASEAN ke-23 di Brunei Darussalam, negara yang saat ini populasinya terpadat ke 4 di dunia setelah Amerika Serikat, pada tahun 2035 mendatang, diprediksikan Indonesia akan menduduki jumlah penduduk terbanyak di ASEAN, yakni jumlah penduduk yang akan mencapai 291,6 juta jiwa dengan pertumbuhan penduduk 0,74 persen setiap tahunnya.

Sebagai negara kepulauan, jumlah penduduk yang tersebar di setiap pulau yang ada di Indonesia turut memberikan kontribusi dalam peningkatan jumlah penduduk Indonesia. Salah satu Pulau yang memiliki kepadatan penduduk di Indonesia adalah Pulau Bungin, yang saat ini mendapatkan predikat sebagai pulau terpadat di dunia. Pulau Bungin ini terletak di Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Pulau Bungin awalnya dihuni oleh penduduk dari suku Bajo yang dirintis oleh Palema Mayo, salah seorang dari 6 orang anak raja Selayar. Menurut cerita yang berkembang, Palema Mayo datang ke Sumbawa sebelum meletusnya gunung Tambora di daratan utama, pada 1812. Dimana waktu itu Pulau Bungin yang berpasir putih masih kosong dan hanya ditumbuhi pohon Bakau.

Pict : rahmanopick.blogspot.co.id
Pict : rahmanopick.blogspot.co.id

Kepadatan penduduk membuat Pulau Bungin tidak memiliki garis pantai, karena pesisir pulau seluruhnya sudah dibangun menjadi tempat tinggal. Pulau Bungin memiliki luas 8,5 hektar dengan jumlah penduduk 3.400 jiwa dan hampir tidak dijumpai lahan yang kosong di pulau tersebut.

Setiap tahun pulau yang dihuni oleh penduduk dari suku Bajo yang berasal dari Sulawesi Selatan tersebut, rata-rata setiap tahunnya mengalami penambahan 10 buah rumah baru di Pulau Bungin. Pulau Bungin yang wilayahnya sangat padat tersebut terus bertambah luasnya karena adanya upaya reklamasi untuk menampung penambahan keluarga yang baru menikah.

Proses reklamasi penimbunan batu untuk pembuatan rumah baru memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Biasanya satu atau dua tahun. Bahkan ada yang lebih dari itu tergantung kemampuan warga sendiri. Di atas wilayah perairan yang telah di reklamasi tersebut nantinya akan didirikan bangunan berbentuk rumah panggung.

Berikan Komentar Anda

avatar