Kampung Bena
Suasana Kampung Bena yang begitu asri dengan lanskap arsitekturnya [Istimewa]

NEWSWANTARA – Letak Kampung Bena berada di puncak bukit dengan latar belakang Gunung Inerie yang masih memegang teguh sistem budaya dan kemasyarakatan zaman prasejarah. Di Kampung Bena masih terlihat batu-batu seperti taring babi hutan atau raksasa menengadah ke langit bersandar rapi di tepi altar yang juga terbuat dari batu. Konon persembahan bagi para dewa dulunya dilakukan di atasnya.

Keberadaannya di bawah gunung merupakan ciri khas masyarakat lama yang mempercayai dan memuja gunung sebagai tempatnya para dewa, dan masyarakat Bena meyakini bahwa keberadaan Dewa Yeta yang bersinggasana di Gunung Inerie akan melindungi kampung mereka.

Penataan lahan dan lanskap arsitektur yang penuh bebatuan menandakan budaya zaman megalitik masih tersisa dan bertahan sampai saat ini. Masih pada kawasan yang sama, rumah panggung beratapkan rumbia berjajar berhadapan membawa pada nuansa masyarakat tradisional yang sesungguhnya.

Baca juga : Wisata warisan ahok

Kampung Bena merupakan sebuah perkampungan megalitikum yang terletak di Kabupaten Ngada, Flores NTT, tepatnya di Desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere. Akses menuju Kampung Bena dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan sewa dari Bajawa dengan jarak tempuh sekitar 19 km ke arah selatan Bajawa.

Sebanyak 45 buah rumah yang saling mengelilingi dengan 9 suku menarik rasa penasaran untuk mengulas lebih jauh lagi. Rumah itu dihuni oleh suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago. Pembeda antara satu suku dengan suku lainnya adalah adanya tingkatan sebanyak 9 buah dan setiap satu suku berada dalam satu tingkat ketinggian.

Kampung Bena
Suasana Kampung Bena yang begitu asri [Istimewa]

Susunan rumah-rumah di Bena terlihat berbentuk melingkar membentuk huruf U dimana setiap rumah memiliki hiasan atap yang berbeda satu sama lainnya berdasarkan garis keturunan yang berkuasa dan tinggal di rumah tersebut. Di tengah desa biasanya terdapat sebuah bangunan disebut nga’du dan bhaga.

Bangunan ini dinyatakan sebagai simbol leluhur kampung yang berada di halaman, kisanatapat, tempat upacara adat digelar untuk berkomunikasi dengan leluhur. Nga’du berarti simbol nenek moyang laki-laki dan bentuknya menyerupai sebuah payung dengan bangunan bertiang tunggal dan beratap serat ijuk, hingga bentuknya mirip pondok peneduh.

Kehidupan di Kampung Bena mencerminkan kesetiaan apa yang telah diwariskan leluhurnya. Sensasi kehidupan pada masa zaman batu bersama keramahan senyum para penduduknya, menggoda untuk mampir sejenak di Kampung Bena untuk belajar lebih jauh lagi. Sebuah contoh yang dipertontonkan kearifan lokal Indonesia untuk ditiru oleh generasi jaman now. (©nws)


Diolah dari berbagai sumber

Berikan Komentar Anda

avatar