Idiom Bahasa Indonesia
Ungkapan atau biasa juga disebut Idiom adalah gabungan kata yang mempunyai makna baru dan tidak dapat diartikan satu persatu kata. (Foto: Pixabay)

NEWSWANTARA – Bahasa Indonesia adalah bahasa yang kaya dan memiliki makna yang cukup mendalam, berkembang jauh melampaui penggunaan kata yang ada dalam kamus formal. Budaya dan sejarah yang berkembang telah membantu membentuk kosa kata baru, menciptakan idiom (ungkapan) unik dan bahkan kocak di setiap generasi. Untuk wawasan Anda (dan hiburan), berikut adalah 10 idiom bahasa Indonesia yang mungkin akan membuat Anda tersenyum.

Anak bawang

Di antara sekelompok orang, ‘anak bawang’ adalah seseorang yang dianggap ‘kurang mampu’ dibandingkan dengan yang lain. Apakah itu di lapangan sepak bola atau di lingkungan profesional, ungkapan itu mengisyaratkan bahwa seseorang tersebut tidak diharapkan berkontribusi banyak dalam sebuah kelompok. Sebaliknya, anak bawang membutuhkan lebih banyak perlindungan dan arahan dari orang lain.

(Baca Juga: Sejarah Bahasa Indonesia dan Perkembangannya)

Tahi lalat

Orang Indonesia mungkin menganggap tahi lalat sebagai tanda kecantikan dan pemanis wajah wanita, tetapi arti sebuah titik hitam ini jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris memiliki arti yang cukup buruk: “fly poo” (tahi terbang). Mungkin bercak kecil yang gelap itu mencitrakan seekor serangga. Terlepas dari namanya, orang-orang yang memiliki ‘fly poo’ di wajahnya dianggap mempesona.

Hidung belang

Ungkapan ini berasal dari era kolonial awal di Indonesia, ketika seorang prajurit muda digantung karena hubungan seksualnya yang terlarang dengan putri seorang pejabat Belanda. Sebelum eksekusi, pemuda itu menerima noda kotoran di hidungnya sebagai simbol aib. Sejak saat itu, ‘hidung belang’ telah menjadi cara untuk merujuk pada seseorang, umumnya pria, yang suka memikat dan menggoda wanita.

(Baca Juga: Bahasa Sasak Sebagai Sebuah Penopang Kekuatan Suku Sasak)

Pedagang kaki lima

Pedagang kaki lima menjadi idiom sehari-hari yang populer meskipun pada awalnya merupakan penerjemahan yang salah. ‘Lima’ sebenarnya mengacu pada lebar trotoar untuk setiap jalan utama, seperti yang diisyaratkan oleh Belanda selama kolonialisme, yaitu lima kaki (1,5 m). Saat ini pedagang pinggir jalan disebut pedagang kaki lima.

Buaya darat

Dalam kehidupan alam liar buaya selalu bersembunyi secara rahasia untuk mencari mangsa segar. Dalam kasus buaya darat ini, istilah yang merendahkan bagi laki-laki playboy atau womanizer, para korban buaya darat biasanya adalah wanita-wanita yang tidak menaruh minat pada hubungan yang tidak serius demi keuntungan si buaya itu sendiri.

(Baca Juga: Kenali Dahulu Bahasa Banjar Sebelum Berlibur ke Banjarmasin)

Buah bibir

Melambangkan informasi menarik yang keluar dari mulut seseorang, buah bibir adalah sesuatu atau seseorang yang telah menjadi topik pembicaraan untuk sementara waktu. Baik itu kafe baru yang trendi di sudut jalan atau politisi yang korup.

Muka tembok

Muka tembok/muka tebal, merupakan julukan bagi orang yang tidak mempunyai rasa malu. Seseorang yang berhadapan dengan dinding tidak mengenal rasa malu. Mereka tahu bagaimana menyembunyikan kekurangan dan kesalahan di balik eksterior tebal yang mereka hadirkan kepada dunia.

Malu-malu kucing

Orang yang malu-malu kucing bertindak seperti terlalu malu untuk melakukan atau menerima sesuatu, meskipun sebenarnya sangat menginginkannya. Kadang-kadang orang melakukan ini dengan sopan ketika menerima tawaran, atau untuk menjaga diri agar tidak kehilangan muka.

Kutu loncat

Sama halnya seperti kutu yang cenderung menyebar ke mana-mana, ‘kutu loncat’ juga selalu bergerak. Ungkapan ini sangat umum di lingkungan kerja, artinya karyawan yang suka berganti-ganti pekerjaan terlalu cepat. Dalam konteks lain, ‘kutu loncat’ dapat merujuk kepada seseorang yang selalu bergantung pada orang lain untuk bertahan hidup.

Buah tangan

Orang Indonesia memiliki kebiasaan yang tulus untuk membawa pulang oleh-oleh setelah bepergian. Entah itu gantungan kunci sederhana atau makanan ringan untuk dibagikan, pelancong biasanya tidak pulang dengan tangan kosong. Oleh-oleh atau souvenir ini disebut buah tangan.