Mengolah limbah pabrik tahu
Pekerja industri tahu [Foto: Antara / Aditya Pradana Putra]

NEWSWANTARA – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Nanyang Technological University (NTU) Singapura melakukan kerja sama untuk mengelola instalasi dan mengolah limbah pabrik tahu di Sumedang. Para pakar ini mengembangkan teknologi mengubah limbah cair dari 10 pabrik tahu di Dusun Giri Harja, Desa Kebon Jati, Sumedang menjadi energi gas alternatif.

Limbah cair yang sudah diolah dengan teknologi anaerob multitahap tersebut nantinya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar lokasi pengolahan limbah untuk keperluan sehari-hari seperti memasak.

(Baca Juga: Mengubah Limbah Sabut Kelapa Menjadi Sesuatu Yang Bernilai Ekonomis)

Dalam penerapannya, limbah-limbah tahu cair tersebut akan dikumpulkan pada satu tempat atau wadah besar yang kemudian dimasukkan ke dalam tabung-tabung raksasa untuk diolah menjadi energi alternatif berupa biogas.

Pengolahan limbah ini masih terus disempurnakan dan dijadikan proyek percontohan yang dapat dikembangkan di wilayah Sumedang, hal ini dilakukan mengingat banyaknya pabrik tahu di Sumedang yang memiliki limbah tahu yang dibuang setiap harinya.

Mengolah limbah pabrik tahu
Limbah-limbah tahu dikumpulkan di satu tempat atau wadah besar yang kemudian dimasukkan ke dalam tabung-tabung raksasa yang kemudian akan diolah menjadi biogas. [Foto: Tribunjabar / Seli Andina Miranti]

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwasannya di Sumedang banyak sekali terdapat pengusaha-pengusaha tahu. Tahu telah menjadi ikon wisata kuliner di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat sejak 100 tahun lalu. Namun industri ini menghadapi masalah pengelolaan limbah cair yang berbahaya bagi lingkungan.

Industri tahu merupakan salah satu industri yang menghasilkan limbah organik berupa limbah padat dan limbah cair. Limbah padat berasal dari proses penyaringan dan penggumpalan, sedangkan limbah cair dihasilkan dari proses pencucian, perebusan, pemadatan, hingga pencetakan tahu yang membuat volume limbah cair menjadi lebih tinggi.

Limbah cair tahu mempunyai pH rendah, berkisar di angka 4-5 di bawah ambang batas normal 7, dan mempunyai senyawa-senyawa terlarut yang apabila langsung dibuang dapat mengakibatkan lingkungan menjadi tercemar.

Selain itu, limbah cair tahu mempunyai bau busuk yang cukup menyengat. Kondisi ini membuat limbah tahu menjadi berbahaya karena dapat merusak kualitas air sungai serta mengganggu warga sekitar.

Teknologi untuk mengolah limbah pabrik tahu di Sumedang yang dirancang oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bersama Nanyang Technological University tersebut diharapkan dapat menjadi jalan bagi masyarakat untuk mendapatkan energi alternatif sekaligus mengurangi masalah limbah.

Berikan Komentar Anda

avatar