Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sebagaian wilayah Indonesia
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sebagaian wilayah Indonesia. (Foto: Shutterstock/Sophandi)

NEWSWANTARA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah melanda sebagian wilayah di Indonesia, yakni di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Dampak dari kebakaran hutan ini sudah sangat mengkhawatirkan dan berbahaya.

Efek kebakaran hutan dan lahan tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang ada di wilayah Sumatera dan Kalimantan saja, tetapi juga telah menyebar ke negara tetangga seperti Malaysia. Hewan dan habitatnya juga ikut terkena dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang semakin memburuk.

(Baca Juga: Waspada Memasuki Laut Indonesia, Ada Global Fishing Watch !)

Pemerintah beserta lembaga-lembaga terkait dibantu juga oleh masyarakat bekerja bersama saling bahu-membahu untuk memerangi kebakaran hutan dan lahan. Ada banyak titik api atau hotspot dari kebakaran hutan dan lahan yang tersebar di beberapa daerah.

Untuk mendeteksi hotspot kebakaran hutan dan lahan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyediakan citra satelit khusus untuk mendeteksi kebakaran hutan dan lahan yang mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia. LAPAN menggunakan satelit penginderaan jauh Terra-MODIS, Aqua-MODIS dan Suomi NPP-VIIRS untuk mendeteksi titik api/hotspot.

(Baca Juga: Menjaga Perairan Indonesia Dengan Monalisa System)

Berdasarkan panduan hotspot yang diterbitkan oleh LAPAN, informasi citra satelit akan diproses melalui jaringan VPN stasiun bumi Parepare-Pekayon dan Rumpin-Pekayon di pusat pengolahan dan pengelolaan data (BDPJN) untuk diproses agar dapat menghasilkan informasi hotspot. Informasi hotspot tersebut akan dihasilkan dalam kurun waktu rata-rata sekitar 1,5 jam.

Ada tiga tingkat interval kepercayaan atau confidence level yang menunjukkan tingkat kepercayaan, bahwa area sensitif yang dipantau dari data satelit sebenarnya adalah peristiwa kebakaran yang terjadi di lapangan. Semakin tinggi interval kepercayaan, maka semakin besar potensi bahwa hotspot tersebut sebenarnya adalah kebakaran hutan dan lahan.

Terdapat tiga kelas tingkat kepercayaan dalam citra satelit hotspot LAPAN, yaitu:

  1. Tingkat kepercayaan hotspot C <30% berarti interval kepercayaan rendah dan tindakan yang diharapkan harus “dipertimbangkan”.
  2. Tingkat kepercayaan hotspot C <80% berarti bahwa interval kepercayaan nominal dan tindakan yang diharapkan “waspada”.
  3. Tingkat kepercayaan hotspot C <100% berarti bahwa interval kepercayaan tinggi dengan tindakan “penanggulangan segera”.

Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan

Berdasarkan citra satelit LAPAN pada hari Selasa (17/9/2019) pukul 22.00 WIB, ada 526 hotspot kebakaran hutan dan lahan di kategori C <100%. Sebagian besar hotspot berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Untuk memantaunya dapat dilihat disini

Citra satelit hotspot kebakaran hutan dan lahan
Citra satelit hotspot kebakaran hutan dan lahan

Meskipun satelit dapat mendeteksi kebakaran hutan dan lahan, LAPAN juga menjelaskan bahwa jumlah hotspot yang terdeteksi bukanlah jumlah kebakaran hutan dan lahan yang terjadi, melainkan hanya sebagai indikator. Satelit dapat mendeteksi dua insiden kebakaran dalam jarak 500 meter yang akan ditangkap dalam satu hotspot.

Karakteristik hotspot yang benar-benar terjadi kebakaran hutan dan lahan, biasanya ditunjukkan oleh hotspot yang berkelompok, hotspot juga ditandai dengan asap dan titik hotspot terjadi secara berulang kali.