kebudayaan masyarakat Aceh
Tari Saman merupakan salah satu tarian daerah Aceh. Tarian ini berasal dari dataran tinggi Gayo. (Foto: wacana.co)

NEWSWANTARA – Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai suku dan budaya terbanyak di Dunia. Masing-masing budaya daerah saling mempengaruhi atau dipengaruhi oleh budaya daerah lainnya. Salah satu budaya tersebut adalah kebudayaan masyarakat Aceh. Sejarah dan perkembangan masyarakat Aceh sangat menarik perhatian para antropolog seperti Snouck Hurgronje.

Dilihat dari kebudayaan masyarakat Aceh, Aceh memiliki budaya yang sangat unik dan beraneka ragam. Sekarang ini kebudayaan Aceh banyak dipengaruhi oleh budaya melayu. Beberapa budaya Aceh yang ada sekarang ini merupakan hasil dari kombinasi antara budaya melayu, Timur Tengah dan Aceh sendiri.

(Baca Juga: Aceh dan Islam Indonesia, Sebuah Simbol Budaya Toleransi)

Suku bangsa Aceh sendiri merupakan keturunan dari orang melayu dan Timur Tengah. Hal ini menyebabkan orang-orang Aceh berbeda jauh dengan wajah orang Indonesia lainnya. Mata pencaharian masyarakat Aceh sebagian besar yaitu bertani, dan ada juga yang berdagang. Sistem kekerabatan masyarakat Aceh yaitu mengenal Wali, Kaom dan Karong.

Agama Islam merupakan agama yang paling mendominsi di Aceh, maka dari itu Aceh sering dijuluki sebagai “Serambi Mekkah”. Dalam sistem struktur pemerintahan lokal Aceh terdiri dari gampông, mukim, nanggroë, sagoë dan keurajeun.

Untuk mengenal lebih jauh tentang kebudayaan masyarakat Aceh, mari kita simak informasi tentang Aceh.

Mata pencaharian masyarakat Aceh

Mata pencaharian utama masyarakat Aceh adalah bertani, dengan tanaman pokok berupa padi, cengkeh, kelapa dan lain-lain. Sebagian masyarakat Suku Alas di Aceh bergantung hidup dari pertanian di sawah atau ladang, terutama yang hidup di kampung. Orang Tamiang sendiri mata pencahariannya yaitu bercocok tanam padi. Kalau Orang Aneuk jamee adalah dengan bersawah, berkebun, dan berladang.

Sistem Kekerabatan Budaya Masyarakat Aceh

Dalam sistem kekerabatan kebudayaan masyarakat Aceh, yang penting adalah keluarga inti dengan menganut prinsip keturunan bilateral. Adat menetap setelah menikah yaitu bersifat matrilokal. Artinya yaitu tinggal di rumah orang tua istri selama beberapa waktu/ beberapa hari. Sedangkan anak adalah tanggung jawab seorang ayah sepenuhnya.

Sistem Pelapisan Sosial Masyarakat Aceh

Pada jaman dulu masyarakat Aceh mengenal atau mengetahui beberapa lapisan sosial. Diantaranya empat golongan masyarakat, yaitu golongan keluarga sultan, golongan uleebalang, golongan ulama dan golongan rakyat biasa.

Sistem Kemasyarakatan Orang Aceh

Kesatuan hidup yang terkecil di Aceh dinamakan dengan gampong, dan dikepalai oleh seorang geucik atau kecik. Di dalam gampong terdapat sebuah meunasah (madrasah) yang dipimpin oleh seorang imeum meunasah. Kehidupan sosial maupun keagamaan di setiap gampong dipimpin oleh seorang pemuka adat maupun pemuka agama. Seperti imeum meunasah, teungku khatib, tengku bile dan tuha peut atau penasihat adat.

Bahasa

Bahasa yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat Aceh yaitu bahasa Austronesia, yang terdiri dari beberapa dialek. Seperti dialek Pidie, Aceh Besar, Meulaboh, hingga Matang. Sehari-hari saat berkomunikasi Suku Alas menggunakan bahasanya sendiri, yaitu bahasa Alas. Penggunaan dari bahasa ini dibedakan beberapa dialek, seperti Hulu, Tengah dan Dialek Hilir.

Kesenian Budaya Aceh

kesenian Aceh memang tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan Islam, akan tetapi sudah disesuaikan dengan nilai budaya yang berlaku. Aceh memang terkenal dengan kesenian tarinya yang sangat beraneka ragam. Seperti Seudati, Seudati Inong dan Sedoati Tunang. Selain itu Aceh juga terkenal dengan seni kaligrafi Arab.

Peralatan Atau Persenjataan

Masyarakat Aceh terkenal dengan prajurit-prajurit yang tangguh saat menentang penjajah. Dengan peralatan atau senjata rencong, ruduh, peudang, tameung, dan kemeurah paneuk. Peralatan atau senjata tersebut dibuat sendiri oleh masyarakat Aceh.

Berikan Komentar Anda

avatar