Anak-anak Indonesia
Anak-anak Indonesia. (Foto: Istimewa)

NEWSWANTARA – Perubahan zaman yang terjadi begitu cepat mengharuskan manusia untuk mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang ada. Perubahan kondisi zaman tersebut juga berperan penting dalam membentuk sudut pandang anak-anak, khususnya anak Indonesia dalam menentukan cita-citanya di masa depan.

Pada masa pemerintahan kolonial, anak-anak Indonesia tak punya banyak pilihan dalam menentukan cita-citanya. Mereka hanya bercita-cita untuk melanjutkan pekerjaan orangtuanya sebagai petani, kuli kebun, buruh pabrik, atau pedagang.

(Baca Juga: Anak Muda Sebagai Tumpuan Estafet Pembangunan)

Sejak 1870 Hindia Belanda telah membuka ruang bagi modal swasta untuk masuk. Dampak dari permodalan swasta tersbut memunculkan banyak perkebunan dan pabrik di Sumatera dan Jawa. Kebutuhan terhadap kuli kebun dan buruh pabrik juga semakin meningkat. Akan tetapi hal tersebut tidak sejalan dengan harapan orangtua dan cita-cita anak-anak Indonesia.

Para orangtua mereka tahu bahwa saat itu ada profesi yang lebih baik selain menjadi petani, kuli kebun, buruh pabrik, dan pedagang. Profesi tersebut diantarannya adalah menjadi pejabat, pegawai negeri (pangreh praja), guru, dan mantri cacar. Tapi mereka menyadari bahwa anak-anak mereka perlu peluang untuk menggapainya. Peluang itu berupa pendidikan.

Sistem Pendidikan Pada Masa Kolonial

Pada masa kolonial, pendidikan terbatas hanya untuk anak-anak Indonesia yang berstatus dari keluarga bangsawan atau priayi. Namun memasuki abad ke-20, pemerintah kolonial mengeluarkan kebijakan Politik Etis. Salah satu wujudnya dengan membuka akses pendidikan secara lebih luas untuk anak-anak Indonesia.

Sekolah-sekolah swasta dan negeri mulai berdiri di banyak tempat dan menerima lebih banyak kelompok anak negeri. Tak hanya untuk anak-anak keluarga priayi dan bangsawan, melainkan juga untuk anak-anak dari keluarga jelata. Tetapi mereka tidak bercampur dalam satu sekolah. Masing-masing masuk sekolah sesuai lapisan sosial dan rasialnya. Seringkali pembagian strata sekolah ini kerap menimbulkan kesan heran pada diri anak-anak.

(Baca Juga: Melanjutkan Semangat Sumpah Pemuda)

Kehadiran beragam sekolah mengubah orientasi para orangtua. Mereka percaya pendidikan di sekolah anak-anaknya kelak mampu meningkatkan taraf hidup anaknya lebih baik dibandingkan orangtuanya. Mereka berharap sang anak bisa bekerja sebagai pegawai rendahan di kantor milik pemerintah atau swasta. Mendapatkan gaji bulanan dan sejumlah fasilitas.

Masa Kemerdekaan

Kemerdekaan menandai tonggak penting perluasan cita-cita anak Indonesia. Undang-Undang Dasar 1945 menetapkan pendidikan sebagai hak setiap warga negara. Setiap orang pada masa kemerdekaan boleh bersekolah selama mempunyai kemampuan membayar dan mengikuti pelajaran.

Ekonomi negara juga mulai bergerak. Universitas dan sekolah tinggi bertumbuh lebih banyak. Perniagaan baru bermunculan dan menciptakan keanekaragaman profesi. Orangtua tak lagi terkungkung pada harapan anak-anaknya kelak hanya menjadi pegawai kantoran, melainkan juga ada harapan agar anaknya menjadi dokter, tentara, insinyur, ahli hukum, dosen, dan guru.

Sekolah pada masa kemerdekaan berperan penting dalam mengintegrasikan anak-anak dari beragam lapisan sosial. Tidak seperti pada zaman kolonial, hubungan mereka pada masa kemerdekaan melintasi batas primordial. Pada gilirannya interaksi ini mampu mengubah kembali cita-cita mereka.

Ingin Jadi ABRI Seperti Soeharto

Kemunculan rezim orde baru yang menempatkan pembangunan sebagai ideologinya, meninggalkan gagasan politik rezim sebelumnya. Di masa orde baru, peran dokter, insinyur, ahli hukum, dan ekonomi sangat penting dalam rencana pembangunan. Untuk itulah, pemerintah membuka lebih banyak lagi sekolah tinggi dan universitas.

Untuk dapat mencapai target pembangunan, Orde Baru menerapkan stabilitas politik. Tugas ini berada di tangan ABRI. Peran ABRI pun menjadi dominan. Dan ini mempengaruhi kecenderungan anak-anak untuk menjadi anggota ABRI.

Dalam beberapa surat anak-anak untuk Presiden Soeharto pada dekade 1980-an, sebagian anak-anak mengutarakan keinginannya menjadi anggota ABRI. Tak sedikit pula anak-anak begitu bangga dengan peran Soeharto sebagai Panglima Tertinggi ABRI. Mereka menilai Soeharto telah berjasa besar dalam menjaga keamanan dan kesejahteraan negara.

Cita-Cita Sebagai Selebgram dan Youtuber

Jika melihat masa lalu, menjadi seorang dokter, guru, ilmuwan, insinyur atau astronaut tampaknya bukan menjadi hal yang diimpikan bagi anak-anak masa sekarang (generasi milenial). Namun anak-anak zaman sekarang ternyata punya cita-cita baru yang agak jauh berbeda dengan impian anak-anak di generasi terdahulu.

Pada era digital seperti saat ini yang ditandai dengan semakin membaiknya infrastruktur dan teknologi terutama internet dan gadget, cita-cita pun mulai berubah. Dahulu banyak anak-anak indonesia yang menginginkan menjadi dokter, polisi, TNI, ataupun guru tetapi, memasuki era industri 4.0 cita-cita anak Indonesia sudah mulai berubah bukan lagi menjadi dokter ataupun guru melainkan menjadi seorang youtuber ataupun selebgram.

Tidak bisa dipungkiri jika menjadi seorang youtuber maupun selebgram saat ini bisa dianggap sebagai profesi yang cukup menjanjikan sama seperti pekerja profesional lainnya. Bahkan tidak sedikit pula youtuber yang mampu memperoleh pendapatan hingga puluhan juta secara mingguan.