Sejarah nama Indonesia
Nama "Indonesia" berasal dari berbagai rangkaian sejarah panjang yang puncaknya terjadi di pertengahan abad ke-19. (Foto: Istimewa)

NEWSWANTARA – Ada sebuah ungkapan “apalah arti sebuah nama” yang menunjukkan bahwa sebuah nama itu tidak terlalu penting. Namun tidak dengan nama “Indonesia” yang diraih dengan berbagai rangkaian sejarah panjang dan rumit, penelitian ilmiah, perjuangan untuk kemerdekaan, identitas nasional, dan politik.

Sebelum nama “Indonesia” terbentuk

Sebelum terbentuknya peradaban global, Negara Indonesia yang ada saat ini diberi nama berbeda oleh berbagai negara. Tetapi dengan berbagai macam variasinya, atribut utama yang dicatat oleh mereka semua untuk menggambarkan Indonesia adalah “daerah dengan pulau-pulau yang tak terhitung banyaknya”.

Orang Cina menyebut daerah ini Nan-hai, yang berarti Kepulauan Laut Selatan. Orang-orang India memilih Dwipantara, atau Kepulauan Beyond, sementara orang-orang Arab menetapkan Indonesia dengan istilah Jaza’ir al-Jawi, atau Kepulauan Jawa. Semua nama yang disematkan tersebut merujuk pada wilayah kepulauan yang sangat jauh dari negeri mereka.

(Baca Juga: Sejarah Bahasa Indonesia dan Perkembangannya)

Sementara itu, orang Eropa menganggap tanah nan eksotis yang letaknya berjauhan dari Persia dan Cina sebagai satu entitas yang mereka sebut ‘Hindia’, atau kadang-kadang ‘Hindia Timur’ untuk membedakan daerah tersebut dari Amerika yang baru ditemukan sekitar abad ke-16. Namun, seiring dengan kemajuan studi tentang budaya dan etnis asli di negeri-negeri itu, kebutuhan akan perbedaan segera terwujud. Para ahli etnologi dan cendekiawan mulai menggambar klasifikasi berdasarkan profil masyarakatnya.

Indonesia dalam artikel ilmiah

Upaya pencarian untuk menyebut daerah dengan pulau-pulau yang tak terhitung banyaknya ini merupakan upaya ilmiah yang keras agar tidak menimbulkan sentimentalitas yang sewenang-wenang oleh bangsa yang sudah ada. Tetapi seperti anak yang baru lahir, upaya pertama kali dilakukan oleh negara lain yang telah ada sebelumnya.

(Baca Juga: Sejarah G30S/PKI dan Kisah Kelam Perjalanan Bangsa Indonesia)

Selama beberapa dekade, para sarjana Eropa memiliki perbedaan pendapat dalam mencantumkan nama pulau-pulau yang tak terhitung banyaknya ini di dalam makalah mereka, yang sebagian besar berkisar pada gagasan “Hindia” dan “pulau” dalam bahasa atau kata-kata yang berbeda.

Setelah seringkali berganti nama, barulah muncul sebuah kesepakatan untuk menamaiĀ  daerah dengan pulau-pulau yang tak terhitung banyaknya ini, nama tersebut digagas oleh George Samuel Windsor Earl, seorang etnolog Inggris, yang pertama kali menciptakan istilah ‘Indunesia’ dan memperkenalkannya ke dalam wacana ilmiah pada tahun 1850. ‘Indus’ berasal dari ‘Hindia’ sedangkan ‘nesia’ adalah bahasa Yunani untuk ‘pulau’ (nesos). Belakangan, James Richardson Logan, seorang sarjana Skotlandia, menggantikan ‘u’ di ‘Indunesia’ dengan ‘o’ sehingga menjadi Indonesia.

Sejak itu, nama Indonesia digunakan oleh lebih banyak cendekiawan dan menjadi lebih lebih umum dikenal, meskipun tanah ini sendiri dibagi dalam monarki dan etnis yang berbeda dan tidak disatukan oleh visi atau identitas yang sama.

Independensi dan identitas nasional Indonesia

Terlepas dari wacana ilmiah yang berkembang di Indonesia, selama era kolonial, Belanda bersikeras menyebut “Nederlandsch-Indie” (Hindia Belanda) sebagai nama wilayah yang kaya rempah-rempah ini. Tetapi selama pergerakan kemerdekaan awal sekitar tahun 1920-an, para sarjana Indonesia, yang sebagian besar telah memperoleh pendidikan mereka di luar negeri, menganjurkan menggunakan nama ‘Indonesia’ untuk menggantikan label yang diberlakukan pemerintah kolonial Belanda untuk tanah air mereka.

(Baca Juga: Dua Nama Presiden Indonesia Yang Tak Tercantum Dalam Buku Sejarah)

Namun satu hal yang penting untuk diingat bahwa sebelum pedagang dan penjelajah asing menjejakkan kaki dan kemudian menetap di kepulauan ini, wilayah yang sekarang menjadi Indonesia adalah rumah bagi ratusan kelompok etnis asli dengan sistem dan otoritas sosial mereka sendiri.

Tetapi sejak saat itu, nama Indonesia telah menjadi identitas bagi negara yang sebelumnya terpisah, dipisahkan oleh ratusan etnis dan daerah yang berbeda. Para pemuda dari berbagai pulau dan kota mulai mendeklarasikan diri mereka sebagai pejuang demi kemerdekaan ‘Indonesia’ ini, sebuah wilayah konseptual dengan hanya satu kesamaan: penjajahan Belanda.

Bebagai organisasi regional digabung menjadi satu untuk ‘Indonesia’ dan wacana ini banyak berubah di kalangan penduduk setempat sendiri. Dan ketika kemerdekaan diperoleh dari Belanda pada tahun 1945, semua wilayah ini terlepas dari perbedaan budaya dan etnisnya, menunjukkan kesetiaan pada identitas bersama dengan nama Indonesia.