Internet di Indonesia
Internet

NEWSWANTARA – Istilah internet tentu sudah tak asing bagi kita. Informasi ini pun diakses dengan internet. Bahkan, kini ada banyak orang yang menghabiskan 50 persen waktunya di internet. Tentu hal itu bukan sesuatu yang baik. Namun, bagaimanakah perkembangan internet di Indonesia hingga bisa secanggih sekarang ini?

Awal mula perkembangannya dimulai dengan masuknya jaringan komputer ke Indonesia pada tahun 1980-an yang menghubungkan lima universitas besar di antaranya Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas terbuka dan Institut Teknologi Bandung.

(Baca Juga: Mengenal Standardisasi WiFi Terbaru Generasi 6, Apa Keunggulannya?)

Komputer-komputer tersebut difasilitasi dengan dial-up yang disebut dengan istilah UNInet meski pada akhirnya tidak berkembang akibat kurangnya infrastuktur. Pada tahun 1986 beberapa anggota ARC (Amatir Radio Club) ITB mulai berguru dengan senior radio amatir Robby Soebiakto, Achmad Zaini dan Yos bermodalkan pesawat Tranceiver milik Harya Sudipraptama dan komputer Apple II milik Onno W. Purbo. Merekalah yang kemudian mengaitkan jaringan Bulletin Board System atau BBS agar email dapat tersampaikan dengan lancar.

Mailing list pertama Indonesia adalah indonesians@janus.berkeley.edu. Semakin lama pola tersebut terus berkembang di host server milik ITB dan egroups.co hingga akhirnya mailing list tersebut menjadi salah satu sarana pembangunan komunitas internet yang ada di Indonesia.

Pada tahun 1990-an, jaringan amatir radio digunakan sebagai media komunikasi antara Onno W. Purbo yang berada di Kanada dengan anggota ARC di Indonesia. Peralatan yang digunakan ialah PC/XT dan walkie talkie dengan band 2 meter.

(Baca Juga: Bahaya dan Ancaman Nyata Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence))

Mulai tahun 1992 paket radio TCO/IP diadopsi oleh anggota BPPT, Mahasiswa UI, LAPAN dan Mahasiswa ITB hingga pada akhirnya teknologi tersebut dijadikan tumpuan PaguyubanNet. Sedangkan domain AMPR.org dan IP 44.132 adalah domain pertama yang digunakan untuk AMPR-net. Kemudian BPPT menggunakan gateway tersebut dan dipekerjakan pada band 70 cm dengan PC 386 serta OS DOS.

Sekitar tahun 1994, IndoNet mulai beroperasi dengan sambungan awal menggunakan dial-up dan diakses melalui mode teks shell account, browser Lynx serta email client pine pada server bernama AIX. Sampai pada tahun 1995 BBS Clarissa mulai menyediakan akses Telnet dengan remote browser Lynx di Amerika Serikat sehingga pengguna internet di Indonesia dapat mengakses internet dengan http.

ISP pertama yang digunakan di Indonesia ialah IPTEKnet dengan kapasitas bandwidth 64 Kbps. Sejak saat itu hingga kini, perkembangan internet begitu pesat. Berdasarkan APJII atau Asosiasi Penyeleggara Jasa Internet Indonesia pengguna internet kita sudah mencapai angka

171,17 juta. Tentunya jumlah itu dapat terus meningkat seiring dengan pembangunan dan persebaran jangkauan internet yang sedang dilaksanakan saat ini. Namun, kita masih menyaksikan internet dipergunakan untuk hal-hal yang tidak seharusnya seperti melakukan penipuan. Oleh karena itu, teknologi internet harus digunakan dengan penuh kebijakan dan kehati-hatian.