Sejarah Gunung Bromo
Gunung Bromo. (Foto: Shutterstock)

NEWSWANTARA – Nama Gunung Bromo diambil dari bahasa sansekerta yang berarti Brahma. Dalam sejarah Gunung Bromo disebutkan bahwa Brahma merupakan salah seorang Dewa Utama dalam ajaran agama Hindu. Gunung Bromo menjadi salah satu gunung berapi yang aktif di kawasan Jawa Timur.

Baca Juga:

Gunung Bromo Memiliki ketinggian sekitar 2.329 meter di atas permukaan laut serta berada di empat wilayah kabupaten. Kabupaten tersebut adalah kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang.

Gunung Bromo termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Memiliki status sebagai gunung berapi yang masih aktif menjadikannya sebagai salah satu daya tarik wisatawan. Gunung Bromo kini menjadi objek wisata utama di Provinsi Jawa Timur.

Sejarah Gunung Bromo

Berdasarkan sejarah Gunung Bromo dahulu kala ketika kerajaan Majapahit mengalami serangan dari berbagai daerah membuat penduduk pribumi kebingungan. Mereka kemudian terpisah menjadi dua bagian, bagian pertama menuju ke Gunung Bromo sedangkan bagian ke dua menuju ke Bali. Maka tidak mengherankan bila kedua tempat ini kini memiliki banyak kesamaan. Misalnya dalam kepercayaan yang sebagian beragama Hindu.

Penduduk Asli Gunung Bromo

Suku tengger yang mendiami kawasan sekitar gunung menjadi suku asli Gunung Bromo. Nama tengger tersebut berasal dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Nama Tengger merupakan gabungan kedua nama tokoh tersebut. Kata “Teng” berasal dari nama Roro An-”teng” sedangkan kata ger berasa dari nama Joko Se-“ger”.

Gunung Suci Bromo

Suku Tengger yang merupakan penduduk asli sekitar Gunung Bromo percaya bahwa Gunung Bromo merupakan Gunung Suci, sehingga masyarakat setempat selalu mengadakan upacara rutin setiap tahunnya. Upacara tersebut dikenal dengan nama Yadnya Kasada atau Kasada.

Upacara Kasada dilakukan di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo kemudian dilanjutkan ke puncak Gunung Bromo. Pelaksanaan upacara Kasada dimulai ketika tengah malam hingga menjelang dini hari. Upacara Kasada dilakukan setiap bulan purnama atau sekitar tanggal 14 dan 15 di bulan Kasada atau bulan kesepuluh menurut penanggalan Jawa.

Letusan Gunung Bromo

Sejarah letusan Gunung Bromo telah tercatat beberapa kali. terjadi sekitar abad 20 dan abad 21, Gunung Bromo secara teratur mengalami letusan selama 30 tahun berturut-turut. Gunung Bromo mengalami letusan terbesar pada tahun 1974. Sedangkan letusan terakhir yang terjadi adalah pada tahun 2015.

Sejarah Tradisi Upacara Kasada

Upacara kasada
Upacara kasada merupakan ritual setahun sekali yang diselenggarakan oleh Masyarakat Tengger. (Foto: bbc.co.uk)

Setelah mengetahui sejarah Gunung Bromo, anda sebaiknya juga mengetahui sejarah tradisi upacara Kasada. Dikisahkan pada zaman dahulu hiduplah seorang putri yang bernama Roro Anteng. Kecantikan dari Roro Anteng mengundang banyak pria untuk meminangnya, namun semua pinangan ditolak karena hati Roro Anteng sudah memilih Joko Seger. Kemudian datanglah seseorang perompak yang dikenal sakti datang melamar, maka Roro Anteng yang lembut tidak bisa langsung menolak lamaran tersebut.

Roro Anteng membuat satu permintaan yang sulit untuk menggagalkan pinangan tersebut. Dirinya meminta agar dibuatkan sebuah lautan dalam waktu satu hari. Sebelum pagi datang lautan tersebut semakin terlihat selesai, hati Roro Anteng semakin gelisah. Maka dari itu Roro Anteng berusaha membuat suasana menjadi seperti pagi. Perompak sakti yang mengetahui hal tersebut marah dan melemparkan batok ke sebelah Gunung Bromo dan menjadi sebuah bukit. Hingga kini bukit tersebut dikenal dengan sebutan Gunung Bathok.

Berikan Komentar Anda

avatar