Sejarah Berdirinya PT Freeport
PT Freeport McMoran Indonesia. (Foto: Merdeka.com)

NEWSWANTARA – Siapa yang tak mengenal dengan salah satu perusahaan tambang terbesar di Indonesia ini? Berlokasi di Papua, Freeport telah memberikan hasil tambang dengan jumlah yang begitu menakjubkan. Sayangnya, hasil tambang Freeport ini tak sepenuhnya dinikmati oleh negara Indonesia. Bahkan Indonesia hanya menikmati sebagian kecilnya saja, sedangkan sebagian besar lain dinikmati oleh negara asing sebagai pengelolanya.

Perjalanan kesuksesan Freeport sendiri telah begitu banyak menuai kontrofersi dari rakyat Indonesia. Bukan hanya dari beberapa tahun terakhir, namun sejak pertama kali didirikan Freeport sudah banyak mengundang kontra dari rakyat Indonesia.

(Baca Juga: Devisa Dari Tambang Emas Martabe)  

Pada tahun 1623, seorang pelayar bernama Johan Carstensz melewati laut Papua dan melihat sebuah gundukan gunung yang dipuncaknya terdapat salju. Awalnya penemuan ini hanya ditertawakan oleh para koleganya, bagaimana mungkin di daerah katulistiwa terdapat salju, pikirnya.

Setelah ratusan tahun berlalu, sebuah tim yang dipimpin oleh Hendrikus Lorentz asal Belanda mulai tertarik dengan ungkapan Cartensz dan memutuskan untuk mendaki gunung salju di Papua tersebut. Alhasil beberapa orang Belanda lain juga melakukan ekspedisi di lokasi yang sama. Hingga pada tahun 1936, Jean Jacques Dozy menemukan sebuah gunungan tambang yang menakjubkan.

Jalan Buntu Soekarno Karena Penemuan Forbes Wilson

Pada tahun tersebut dunia sedang terfokuskan pada perang dunia ke II, hingga penemuan Dozy tersebut belum begitu menyita perhatian. Selesainya perang dunia ke II, penemuan yang dicatatkan dalam sebuah laporan tersebut menarik perhatian perusahaan tambang Amerika, Freeport.

Di tahun 1959, Forbes Wilson seorang geology Freeport mendengar laporan tersebut dan segera mengambil tindakan dengan berangkat ke Papua. Kurang dari 1 tahun, Forbes berhasil sampai di tanah air dan begitu tercengang melihat “gundukan harta karun” tersebut. Beberapa sampel batuan tambang pun dibawa Forbes kembali ke Amerika, dan dari sinilah Freeport berhasil mengambil kesimpulan jika pertambangan ini memiliki potensi yang sangat besar. Bahkan hanya dalam waktu 3 tahun modal sudah bisa kembali, ujar pihak Freeport.

Sayangnya upaya Freeport untuk mengembangkan sayap di Indonesia terhalang oleh Presiden Soekarno, dimana pada saat itu presiden RI pertama ini sedang memasang sikap keras pada kaum kapitalis barat. Menurutnya mereka adalah agen “penjajah gaya baru” yang siap mengincar Indonesia. Belum lagi perebutan wilayah NKRI dari Belanda masih hangat. Oleh karena itu, Soekarno masih begitu getol dengan Trikora atau Tiga Komando Rakyat. Sayangnya pada saat itu kekuatan politik Soekarno mulai lengser oleh peristiwa berdarah 1 Oktober 1965.

Halaman Selanjutnya →

Berikan Komentar Anda

avatar