Sejarah Pertambangan di Indonesia
Pekerja tambang Hindia-Belanda [Pict : Istimewa]

NEWSWANTARA – Kekayaan alam Indonesia menyimpan sumber daya yang paling menjanjikan untuk dikelola. Sektor pertambangan misalnya, sektor menjanjikan yang perlu dieksplorasi isi perut bumi untuk bisa menyerap banyak tenaga kerja. Sektor pertambangan begitu menggairahkan dari nilai jual produk yang diambil begitu bernilai.

Sejarah Pertambangan di Indonesia dimulai dengan kegiatan pertambangan yang dilakukan secara tradisional oleh penduduk dengan seizin penguasa setempat (seperti, Raja, ataupun Sultan). Saat Pemerintah Belanda yang kemudian membentuk VOC dalam melakukan perdagangan hasil pertambangan yang kemudian membentuk Dienst van het Mijnwezen (Mijnwezenn-Dinas Pertambangan).

Pada awalnya Belanda datang di bumi Nusantara karena tertarik akan rempah-rempah khas seperti pala dan lada yang melimpah di negeri ini dan kemudian Belanda juga mengeksploitasi kesuburan dari tanah Nusantara. Jejak kegiatan penambangan yang dilakukan Belanda selama berkuasa di Indonesia masih dapat dijumpai mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi.

Baca Juga : Melihat Kekayaan Alam Maluku Utara

Namun jauh sebelum Belanda datang, Nusantara sudah terkenal akan kekayaan emasnya. Situs tambang, banyak artefak yang ditemukan para arkeolog yang terbuat dari emas, baik berupa mahkota, perhiasan, perlengkapan peribadatan, hingga peralatan sehari-hari. Secara empiris hal tersebut membuktikan bahwa sejak dahulu di Indonesia pernah menjadi pusat penambangan emas.

Pada tahun 1850 Pemerintah Hindia Belanda membentuk Dienst van het Mijnwezen (Mijnwezenn-Dinas Pertambangan) yang berkedudukan di Batavia untuk lebih mengoptimalkan penyelidikan geologi dan pertambangan menjadi lebih terarah. Selama Perang Dunia II, Geologisch Laboratorium kerap dipergunakan sebagai tempat pendidikan Assistent Geologen Cursus (Kursus Asisten Geologi).

Raden Soenoe Soemosoesastro dan Arie Frederik Lasut, dua orang peserta pribumi itulah yang kemudian menjadi pegawai menengah pertama di kantor Mijnbouw sejak tahun 1941 yang dikemudian hari menjadi tokoh perjuangan dalam membangun kelembagaaan tambang dan geologi nasional.

Pada masa penjajahan Jepang (1942-1945), Mijnbouw dengan segala sarana dan dokumennya diambil alih oleh jepang dan namanya diganti jadi Chishitsu Chosasho.  Setelah Proklamasi Kemerdekaan, pada tanggal 28 September 1945 lembaga itu diambil alih oleh pejuang Republik Indonesia dan namanya diganti menjadi Poesat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG).

Ketika kota Bandung diduduki Belanda, PDTG mengungsi ke bebrapa daerah Republik Indonesia di Jawa Barat dan Jawa Tengah selama Desember 1945 sampai Desember 1949, dan kantor di Wilheminaboulevard itu dipakai lagi oleh Mijnbouw sebagai pusat kegiatannya.

Selanjutnya pada tahun 1950 semua kegiatan tambang dan geologi, baik PDTG maupun Mijnbouw dijadikan satu dengan nama Djawatan Pertambangan Republik Indonesia. Berdasarkan Keputusan No. 0147 K/73/MEM/200R tanggal 14 Februari 2008 yang dikeluarkan menteri ESDM, tanggal 28 September ditetapkan Hari Jadi Pertambangan dan Energi. (©nws)

Berikan Komentar Anda

avatar