Kongsi Lang Fang
Pada tahun 1772, Lo Fong Pak (pemimpin kongsi Lang Fang) datang dari kampung Shak Shan Po, Kunyichu, Propinsi Kanton dengan membawa 100 keluarganya dan mendarat di Siantan, Pontianak Utara

NEWSWANTARA – Selama Berabad-abad sejumlah wilayah nusantara telah disinggahi dan menjadi tujuan banyak orang dari berbagai etnis, ras dan suku bangsa dari berbagai pojok dunia untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Pada abad ke 18 misalnya, orang-orang Tionghoa di Kalimantan Barat yang didatangkan ke wilayah ini sebagai pekerja tambang emas sempat membentuk komunitas-komunitas yang mempraktekkan model kehidupan demokratis yang bahkan disebut beberapa kalangan sebagai republik kecil.

Dalam lintasan sejarah, kedatangan orang Tionghoa di Kalimantan Barat tercatat pertama kali pada tahun 1960, kala itu sejumlah pelaut Cina mendarat dan melakukan aktivitas perdagangan di Pontianak, namun gelombang besar kedatangan orang-orang Tionghoa di Kalimantan Barat baru terjadi antara tahun 1740 hingga 1750.

Orang-orang Tionghoa ini datang atas undangannya Kesultanan Sambas dan Panembahan Mempawah yang memiliki sejarah kedekatan dengan Kesultanan Palembang. Penguasa dua Kesultanan di Kalimantan Barat sengaja mendatangkan orang-orang Tionghoa untuk menggarap penambangan emas di wilayah Monterado dan mandor Kalimantan Barat. Mereka ingin meniru sukses Kesultanan Palembang yang menjadi kaya berkat tambang timah yang dieksploitasi dengan mendatangkan para penambang dari Tiongkok.

Mayoritas penambang yang didatangkan Kesultanan Sambas dan Panembahan Mempawah berasal dari suku “Khek” atau Suku “Hakka” yang dikenal memiliki kemahiran dalam pertambangan.

Penambangan emas di wilayah Monterado dan Mandor yang berlangsung sukses dengan cepat bukan hanya mendatangkan kekayaan bagi Kesultanan Sambas dan Mempawah. Untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari pertambangan emas, kedua kesultanan aktif menyuplai kebutuhan dan peralatan yang diperlukan orang-orang Tionghoa pekerja tambang, sebaliknya orang-orang Tionghoa ini harus menyetorkan semacam upeti kepada kesultanan.

Sementara itu, sebagian besar orang Tionghoa yang datang ke Monterado dan Mandor adalah laki-laki yang belum menikah, atau tidak membawa anak istri mereka. Kondisi ini memicu terjadinya perkawinan lintas ras antara masyarakat asli Kalimantan Barat dengan kaum pendatang Tionghoa.

Pada paruh pertama abad ke 18, ketika jumlah orang Tionghoa di Monterado dan Mandor mencapai ribuan orang dan kehidupan komunitas-komunitas pendatang kian berkembang, sejumlah kongsi atau sejenis perkumpulan kemitraan terbentuk.

Lewat kongsi-kongsi yang terbentuk di Monterado dan Mandor sejak tahun 1776 (Heshun Zongting), para penambang Tionghoa berupaya menghimpun kekuatan dan mengatur kehidupan bersama mereka secara adil. Fungsi kongsi-kongsi yang kemudian berhimpun dalam federasi ini bahkan seperti negara, hingga beberapa pihak menyebut federasi kongsi ini sebagai republik.

Halaman Selanjutnya →

Berikan Komentar Anda

avatar