NEWSWANTARA – Kayu yang merupakan bahan dasar utama dalam pembuatan kapal kayu mulai langka dan mahal. Luas hutan yang semakin menyusut dikarenakan oleh illegal logging menjadi latar belakang tercetusnya ide pembuatan kapal dengan menggunakan kerangka bambu sebagai bahan dasar utama.

Kapal yang berbahan dasar bambu bisa dijadikan pilihan dari harga kayu yang semakin mahal serta mampu berkontribusi dalam aksi peduli lingkungan (go green) dengan mengganti kayu menjadi bambu sebagai bahan dasarnya.

Kapal bambu hasil pengembangan Ir Heri Supomo MSc, dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) jurusan teknik perkapalan ini memiliki kelebihan-kelebihan diantaranya, daya tahan bambu yang digunakan sebagai bahan dasar kapal.

Hasil pengujian di laboratorium menunjukkan bahwa bambu memiliki sifat-sifat mekanis dan kimia yang memenuhi kualifikasi layak sebagai bahan konstruksi kapal. Selain itu, dipilihnya bambu sebagai bahan baku kerangka kapal karena bambu memiliki 150 persen kekuatan lebih besar dari kayu jati.

Tak hanya itu, salah satu sifat dasar bambu semakin kuat ketika semakin lama terkena air. Percobaan yang dilakukan dengan cara merendam bambu di dalam air laut sejak tahun 2012 hingga sekarang dengan kondisi bambu yang masih bagus.

Selain ketersediaan bahan baku yang melimpah, masa panen bambu pun jauh lebih singkat jika dibandingkan dengan kayu. Bambu yang dipilih dalam penggunaan pembuatan kapal yaitu bambu ori dan betung.

Baca Juga:

Pengembangan kapal bambu ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi pesisir pantai dengan adanya galangan kapal bambu. Jumlah tanaman bambu yang melimpah ruah khususnya di Indonesia. Pada umur 3 tahun, bambu telah bisa dipanen, sedangkan kayu minimal dapat dipanen sekitar umur 20-30 tahun.

Selain itu, bambu memiliki kekuatan tarik yang lebih bagus daripada kayu. Nilai kuat tarik bambu laminasi 1,5 kali lebih besar daripada kayu (184 MPa). Kelebihan lain dari material ini adalah pada pembuatan konstruksi berbentuk lengkung. Proses pembuatan konstruksi lengkung dengan bahan laminasi bilah bambu lebih mudah dan fleksibel jika dibandingkan dengan kayu solid.

Salah satu inovasi dibidang perkapalan ini telah diakui dunia dan bahkan telah dipatenkan. Berkat ‘bambu’ ini juga temuan dosen ITS jurusan desain perkapalan ini mendapatkan sebuah penghargaan.

Hasil penelitian yang dipublikasikan melalui Journal of Small Craft Technology meraih penghargaan The Distinction Medal dari Royal Institute of Naval Archicts (RINA). RINA merupakan organisasi terbesar yang menaungi bidang perkapalan dan berdiri sejak 1860.

Temuan yang cukup membanggakan khusus dibidang perkapalan Indonesia. Adanya inovasi dalam pengganti bahan baku untuk pembuatan kapal ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam memajukan industri perkapalan di Indonesia.

Temuan ini tentunya masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Kedepannya dengan adanya temuan inovasi anak bangsa ini diharapkan bisa menjadi modal penting bagi anak bangsa lainnya untuk terus berkarya dan berinovasi dalam menghadapi persaingan global yang semakin kompetitif.

Berikan Komentar Anda

avatar