(dari pojok kiri) Chris Brauer, Herman Amrullah, Sholahudin Allayubi dan Thya Laurencia Benedita Araujo saat penyerahan tropi. [Pict : istimewa]

NEWSWANTARA – Kaum muda yang berprestasi menjadi tumpuan bangsa bagi estapet penerus masa depan Indonesia. Hal ini yang ditunjukan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) pada lomba inovasi teknologi di London, Inggris. Mereka berhasil membawa merah putih menjuarai kompetisi yang bertajuk Shell Ideas 360.

Mereka adalah Thya Laurencia Benedita Araujo, Herman Amrullah dan Sholahudin Allayubi yang menyulap sampah menjadi bahan energi. Ide yang muncul di tengah ramainya pemberitaan bahwa Indonesia sebagai produsen sampah plastik terbanyak kedua di dunia setelah Cina.

Baca juga : Inovasi Geopori Bagi Permasalahan Genangan 

Hal inilah yang melatarbelakangi untuk mencari peluang dari permasalahan yang dihadapi bangsanya. Pengolahan sampah sebagai sumber energi bukanlah hal yang baru. Terobosannya menjadi berbeda karena tidak lagi membutuhkan energi tambahan dalam mengimplementasiannya.

Mayoritas proses yang digunakan dalam mengubah sampah menjadi energi harus memakai  LPG untuk membakarnya. Sedangkan yang cara yang digunakan mahasiswa UGM ini cukup dengan mengonversikan sampah plastik dengan memakai gas buangan knalpot yang membuat lebih ekonomis.

Baca juga : Bensin Inovasi Mahasiswa UNAIR 

Dari pembuktian yang mereka lakukan, gas buang knalpot mobil yang suhunya bisa melewati 400 derajat Celcius cukup untuk melakukan pembakaran. Selain itu, teknologi yang mereka konsepkan juga memiliki alat penyerap karbon dioksida dari knalpot sehingga polusi pun dapat ditekan.

Dari inovasinya, mereka menjadi satu-satunya wakil dai Asia yang berhasil mengalahkan lebih dari 3.000 ide dari 140 negara. Prestasi yang patut dibanggakan dan menjadi pemacu bagi anak muda Indonesia lainnya untuk bisa berprestasi. mereka bersaing dengan empat tim lainnya dari Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Prancis dan Australia di babak final.

Baca juga : Kapal Bambu Inovasi Dosen ITS Raih Penghargaan The Distinction Medal 

Salah satu juri ajang ini, Chris Brauer, direktur inovasi dari Universitas London menyatakan, kemenangan tim dari Indonesia karena idenya sangat dekat dan relevan. Menurutnya, inovasi ini sangat kuat, karena bisa digunakan langsung oleh orang-orang terdekat mereka. Jika diwujudkan, teknologi ini bisa mengubah perilaku kita dan menjaga pemeliharaan lingkungan.

Selain itu, dengan teknologi yang mereka kembangkan,  bukan tidak mungkin akan sangat gampang untuk mencari konsumen. Sementara peserta yang lain lebih fokus untuk ke bisnis namun peserta dari UGM berawal dari ide lingkungan dan itu revelan dan sangat bisa untuk diterapkan khususnya bagi Indonesia. (©nws)


Diolah dari berbagai sumber 

Berikan Komentar Anda

avatar