Helikopter anti kapal selam
Helikopter AS-566 Panther milik TNI AL yang didesain khusus sebagi heli pemburu kapal selam (Foto: JakartaGreater)

NEWSWANTARA – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tengah sibuk untuk merancang sebuah helikopter khusus. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat ini mendesain heli pemburu kapal selam atau Anti Kapal Selam (AKS).

Dalam hal pengembangan helikopter khusus ini, PTDI menggandeng Airbus Helicopters. Airbus menyediakan heli standar varian militer jenis AS565 MBe Panther. Proses pengembangan heli Panther sendiri telah dimulai sejak Januari 2016.

(Baca Juga: PT Dirgantara Indonesia Siap Kembangkan Produk Helikopter Militer)

Indonesia telah memesan 11 helikopter AS565 MBe Panther baru sejak tahun 2014 sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan penerbangan dan misi anti kapal selam oleh TNI-AL.

Dalam industri helikopter untuk keperluan militer, tidak ada heli baru yang langsung tersedia sesuai kebutuhan pemesan. Produsen helikopter hanya menyediakan heli standar. Untuk varian AS565 MBe Panther, PTDI berperan mendesain dan merakit peralatan Anti Kapal Selam seperti sonar dan persenjataan yang diminta oleh pemesan yakni TNI AL.

Dua dari 11 Helikopter Airbus AS 565MBe Panther yang dimiliki Angkatan Laut Indonesia (TNI-AL) telah didesain untuk tugas operasi perang anti-kapal selam. Sedangkan sembilan helikopter Panther lainnya saat ini sedang dikonfigurasikan untuk multimodal missions dan akan menggantikan skuadron armada helikopter utilitas BO 015  milik TNI Angkatan Laut yang usianya telah menua.

(Baca Juga: Belajar Sikap Patriotisme Dari Nurtanio Pringgoadisuryo)

Berdasarkan informasi dari pihak Airbus Helicopters, varian Panther yang telah dipasok ke TNI-AL memiliki bobot take-off maksimum yang meningkat di atas pendahulunya, yaitu 4.500 kg, dibandingkan dengan 4.300 kg untuk versi AS 565 sebelumnya.

Helikopter ini dilengkapi dengan dua mesin Safran Arriel 2N yang telah dioptimalkan untuk kondisi ’hot and high’, dan memungkinkan helikopter untuk mencapai kecepatan tertinggi yakni 165 knot dan jangkauan 780 km. Pesawat ini juga dilengkapi dengan rotor ekor generasi terbaru Helikopter Airbus dan four-axis autopilot untuk membantu mengurangi beban kerja pilot.

Di bawah perjanjian kolaborasi antara Helikopter Airbus dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), semua 11 helikopter dikirim dalam keadaan ‘green’ ke fasilitas PTDI di Bandung di mana helikopter akan menerima berbagai peralatan dan perlengkapan lebih lanjut, termasuk pemasangan mission equipment.