Pict : detik.com

NEWSWANTARA – Aceh merupakan salah satu dari beberapa destinasi prioritas untuk wisata halal di Indonesia. Namun untuk konsep wisata halal, Aceh punya kelebihan yang tak dimiliki oleh daerah lainnya yang ada di indonesia seperti Lombok.

Yang menjadikan Bumi Serambi Makkah di Aceh berbeda dalam konsep wisata halal adalah penerapan sistem berbasis Syariah yang membuatnya sudah teruji untuk urusan wisata halal, karena Halal merupakan bagian hidup dari masyarakat Aceh sehari-hari.

Hingga saat ini, industri pariwisata Aceh terus mengalami kemajuan yang cukup baik. Hal tersebut tidak terlepas dari adanya keterbukaan masyarakat Aceh dan keberhasilan rekonstruksi Aceh yang memakan waktu hampir 12 tahun yang lalu serta didukung oleh ribuan masyarakat internasional untuk membangun kembali dari keterpurukan pasca bencana Tsunami yang melanda Aceh di tahun 2004 silam.

Keberhasilan dalam merekonstruksi Aceh tersebut juga turut memperkenalkan dan mempromosikan keberagaman potensi Aceh di luar negeri melalui promosi dari mulut ke mulut “words of mouth promotion“, seperti pesona alam, keramahan masyarakat, keunikan masakan khas Aceh, keindahan seni budaya dan kebesaran sejarah masa lalu dan peninggalan dari bencana Tsunami.

Dengan ditunjukknya Aceh sebagai tujuan wisata halal yang ramah Muslim merupakan sebuah niche market baru dalam industri pariwisata Indonesia. Penunjukkan tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan baru bagi masyarakat dan Pemerintah Aceh sebagai tuan rumah yang baik dalam menyambut dan melayani wisatawan melalui pelayanan maksimal yang semuanya harus berbasis halal.

Aceh yang lebih dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah, Bumi Iskandar Muda, Bumi Srikandi, Daerah Modal, Tanah Rencong dan keberadaan beberapa ulama besar dan kharismatik, seperti Syekh Abdurrauf, Syekh Maulana Abdul Aziz Shah, Syamsuddin Assumatrani, Nuruddin Arraniry dan Hamzah Fanshuri yang pernah memberi andil besar dalam kejayaan sejarah Aceh yang semakin memperkuat posisi Aceh sebagai tujuan wisata dan gaya hidup halal.

Moment tersebut juga dapat digunakan dalam memperkenalkan branding baru Aceh dengan taglinenyaThe Light of Aceh” atau “Cahaya Aceh” yang merefleksikan spirit bagi seluruh masyarakat yang disatukan melalui Syariat Islam yang ‘Rahmatan lil ‘alamiin’ sebagai cahaya yang mengajak pada nilai-nilai kebaikan, kemajuan dan kemakmuran.

Tagline The Light of Aceh, pict : iloveaceh.org

Berbagai paket wisata tematik “wisata dan gaya hidup halal” juga dipersiapkan untuk mempromosikan Aceh dengan berbagai keunggulannya, seperti Wonderful Ramadhan, Discover Aceh, Aceh Adventure, Aceh Underwater, Tsunami Heritage, Banda Aceh – Sabang, Lovely Ied Al- Adha in Aceh, Muharram di Aceh dan Muhibbah Sejarah dan Budaya di Aceh.

Seluruh paket wisata dengan gaya hidup halal yang disajikan tersebut dikemas sedemikian rupa agar muatannya berbasis Islami tanpa melupakan unsur kenyamanan yang merupakan kebutuhan utama bagi para wisatawan.

Dalam menyediakan paket wisata halal juga didukung dengan penyediaan sarana ibadah yang bersih, penyajian produk makanan atau minuman yang ramah dan higienis, hotel yang mengakomodir nilai-nilai syariah, arah kiblat, mukena, spa dan suasana di daerah tujuan wisata yang mencerminkan suasana nyaman, bersertifikasi dan bersyariah.

Promosi pariwisata dan gaya hidup halal bukanlah menciptakan labelisasi Islam atau Islamisasi pada berbagai usaha pariwisata yang pada akhirnya akan melahirkan Islamphobia bagi wisatawan. Namun, wisata dan gaya hidup halal dapat menjadi media dakwah dalam membangun pencitraan Islam sebagai agama yang Rahmatan lil ‘alamiin yang memberikan manfaat dan kebaikan bagi semua.

Wisata halal tersebut juga turut mensosialisasikan misi Islam sebagai agama yang Wasathiyyah, Islam yang moderat dan toleran bagi siapapun melalui penyajian produk dan pelayanan wisata berbasis halal, santun, jujur, bersih dan higienis.


Sumber : disbudpar.acehprov.go.id

Berikan Komentar Anda

avatar