Pict : kompasiana.com

NEWSWANTARA –  Televisi kini bukan lagi menjadi media elektronik yang hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu saja, namun keberadaannya saat ini mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Sebagai salah satu media publik, televisi akan dengan sangat mudah membangun opini publik terhadap suatu hal tertentu melalui keunggulan audio visual. Dalam kurun waktu belakangan ini, pertelevisian Indonesia semakin semarak dengan berbagai macam program yang menjadi santapan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Semakin hari acara yang ditampilkan semakin beragam, entah itu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan hiburan dan informasi atau hanya sekedar pemberian hiburan yang dirasa miskin dengan nilai-nilai pendidikan.

Jika disandingkan dengan keadaan jurnalistik pertelevisian di Indonesia yang akhir-akhir ini, tentunya hati kecil akan menangis. Sajian-sajian yang dihidangkan kepada masyarakat kebanyakan tidak memenuhi unsur ‘kesehatan’.

Banyak dari generasi muda (anak-anak) kita saat ini yang perilakunya cenderung meniru siaran televisi yang mereka tonton sehari-hari (sinetron). Tak ayal lagi apa yang mereka tonton pada sebuah acara televisi kini telah menjadi sebuah tuntunan dan tren yang harus diikuti.

Bila kita lihat berbagai macam acara yang ada di televisi, mulai dari berita yang dijadikan alat propaganda politik sampai hiburan sebagai penghilang penat yang mempertontonkan cemooh hingga guyonan ngawur berbau kekerasan seakan sudah menjadi hal lumrah dalam wajah pertelevisian kita saat ini.

Dalam pasal 4 UU Nomor 32 Tahun 2002 yang mengatur mengenai Penyiaran, secara jelas disebutkan bahwa, penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol, dan perekat sosial.

Berbicara mengenai televisi, mau tidak mau kita juga harus berbicara mengenai arus informasi dan juga pembentukan opini. Pemusatan kepemilikan televisi yang hanya dimiliki oleh segelintir orang yang ada saat ini merupakan sebuah bentuk konglomerasi. Sehingga hal tersebut dapat memunculkan monopoli dan menggiring masyarakat pada suatu bentuk opini tertentu.

Sementara itu dari segi bisnis yang tujuan utamanya adalah mencari keuntungan, acara yang dihidangkan dalam siaran pertelevisian saat ini cenderung untuk mengejar rating tertinggi. Semakin tingginya rating sebuah acara televisi akan berdampak pada banyaknya iklan yang akan masuk, sehingga dapat memberi keuntungan bisnis bagi stasiun televisi yang memiliki acara dengan rating tinggi.

Sudah saatnya para pemiliki stasiun televisi berkewajiban untuk memberikan siaran yang layak dan mendidik untuk masyarakat, bukan semata mata menjadikan siaran televisi sebagai sebuah kepentingan bisnis. Masyarakat juga harus dituntun lebih cerdas dalam memilah siaran acara televisi yang layak untuk dikonsumsi.

Berikan Komentar Anda

avatar