NEWSWANTARA – Seperti yang pernah diajarkan di bangku sekolah, dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa “tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaannya” dan “menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaannya masing-masing”. Negara Indonesia secara resmi mengakui ada 6 agama.

Terdiri dari 6 agama yang diakui oleh UUD ‘45 menjadikan Indonesia sebagai Negara yang plural dan heterogen. Kehidupan saling berdampingan dalam kerukunan diartikan sebagai identitas bangsa Indonesia dalam memaknai semboyan Bhinneka tunggal ika. Masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim namun terbuka dengan segala yang terangkum dalam Nusantara.

Keberagaman yang dimiliki indonesia dengan budaya yang kaya berasal dari penjuru nusantara. Budaya yang terangkum memiliki masing-masing keunikan. Begitu juga perayaan hari besar ke enam agama yang ada di Indonesia. Menjadi Negara muslim terbesar di dunia seta memiliki tradisi unik pada saat hari raya idul fitri. Hari Raya Idul Fitri di Indonesia diperingati sebagai hari libur nasional, yang diperingati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang memang mayoritas Muslim.

Mudik atau pulang kampung dijadikan sebagai moment kumpul keluarga dalam skala 1 kali setahun. tradisi unik yang dilakukan hampir seluruh orang dalam satu negara, sekaligus sebagai fenomena mengagumkan di mata dunia. Tradisi yang telah akrab dengan masyarakat Indonesia telah dijadikan sebagai momentum untuk kumpul keluarga, kerabat, teman, sanak-saudara dengan tujuan mempererat tali persaudaraan pada konteks makhluk sosial.

Mudik juga dirasakan oleh masyarakat Etnis Tionghoa. Selama ini tradisi mudik hanya ada di Indonesia? Mudik juga terjadi di beberapa Negara yang ada di dunia dengan hanya pengucapannya yang berbeda. Masyarakat China budaya rutinitas mudiknya ini biasa dilakukan saat hari raya imlek, begitu juga sebaliknya keturunan Tionghoa yang ada di indonesia.

Perjalanan Etnis Tionghoa dalam pengakuannya di Indonesia tersisi dalam mayoritas. Kedudukannya sebagai minoritas memiliki keterbatasan untuk berekspresi hingga merayakan Gong Xi Fa Cai sekalipun. Semenjak dicabutnya Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967 oleh Presiden Republik Indonesia ke 4, K. H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, masyarakat keturunan Tionghoa yang ada di Indonesia ini merasa dikembalikannya kebebasan mereka.

Inpres yang dikeluarkan oleh orde baru ketika awal berkuasa pada tahun 1967 dan melarang kaum Tionghoa merayakan pesta agama dan adat istiadat di depan umum dan hanya boleh dilakukan di lingkungan keluarga. Oleh Gus Dur bahkan dijadikan hari raya imlek sebagai libur nasional.

Perayaan yang sama tujuannya namun dirayakan oleh beda keyakinan ini terjadi di Indonesia. Memiliki penduduk yang mayoritas muslim tidak menutup diri untuk terbuka dengan keyakinan yang beda. Minoritas diantara mayoritas bukan pernyataan yang bisa dijadikan alasan untuk mencari perbedaan. Perbedaan itulah yang harus disikapi dari keberagaman yang nantinya akan menciptakan keunikan.

Identitas bangsa seakan menjadi harga mati untuk memperkuat pondasi menuju perubahan yang diinginkan. Indonesia telah memiliki itu, masyarakat Indonesia yang bisa menyikapi perbedaan untuk membawa Indonesia bergerak lebih jauh lagi. Bukan tersudut memikirkan perbedaan yang mustahil dalam keberagaman bhinneka tunggal ika. Semboyan yang terlahir dari kondisi yang plural dan heterogen akan makna masyarakat majemuk (plural society).

Berikan Komentar Anda

avatar