perilaku konsumtif, pict : republika.co.id

NEWSWANTARA – Konsumsi bukan lagi soal ada-tidaknya uang untuk belanja. Tak peduli sekalipun pendapatan dan anggaran keuangan anda tak mencukupi yang penting bisa memborong hal-hal yang anda inginkan.

Bagaimanapun anda akan punya hasrat lebih besar untuk berusaha mengakali keuangan anda agar bisa membeli barang yang diinginkan daripada menyimpan atau mengatur keuangan anda untuk kebutuhan yang lebih utama. Dorongan hasrat yang lebih besar untuk berbelanja ini merupakan bukti gejala konsumtivisme mulai merebak kemana-mana. Kepuasan membeli menjadi parameter kebahagaiaan bagi pemeluk ‘agama baru’ ini.

Di era kapital global antara kepentingan bisnis dan kebutuhan eksistensi diri manusia menemukan titik temu untuk membenarkan konsumtivisme harus ada. Konsumtivisme menjadi syarat mutlak bagi kelangsungan bisnis, status sosial, dan gaya hidup. Sementara kemenangan kelas borjuis dalam sejarah dijadikan oleh masyarakat cermin dan ukuran kesuksesan hidup.

Mereka dianggap sebagai kelas terhormat/terpandang sehingga semua orang berlomba-lomba untuk mencapai kelas borjuis dengan cara mengadakan dirinya untuk sama persis mengikuti pandangan hidup, status dan gaya hidup mereka. 

Rasa takut tidak berada dalam lingkaran kelas borjuis adalah lukisan diri masyarakat modern. Ketakutan akan ketidakberadaan itu sejalan di dalam pengalaman eksistensi itu sendiri. Secara sederhana orang takut dianggap gagal, takut tidak diakui keberadaannya, takut tidak mendapatkan pengakuan dan penghormatan, yang itu semua merupakan kematian bagi masyarakat modern. 

Derita psikis ini memunculkan rasa teror, keputus asaan, kegelisahan, trauma pada tingkat fisik, psikis dan simbolik. Artinya pada tingkat eksistensial, ada semacam rasa ketidak-amanan ontologis. Orang takut menjadi tidak berarti atau tidak bermakna sehingga secara naluriah orang akan berusaha ‘mengada’. Namun naluri ‘mengada’ ini secara laju gerak eksistensi manusia tidak sejalan dengan gerak laju kapitalis global yang butuh putaran ekonomi cepat.

Gempuran serangan yang konstan oleh periklanan dan informasi tidak memungkinkan kita punya waktu untuk mengartikulasikan perasaan kita. Logika ekonomi cepat yang dianut kapital pada akhirnya menuntut individu untuk segera terpenuhi kebutuhan atau persoalan hidupnya bila tidak ingin ia dianggap tertinggal atau gagal.

Individu akan melakukan kebaruan-kebaruan hidup dalam rangka penyesuaian zaman, sehingga orang sesegera mungkin melakukan putusan-putusan tanpa sempat memaknai putusannya. Sementara manusia dalam memaknai eksistensi butuh waktu yang tidak singkat, butuh proses pemikiran, introspeksi dan perenungan untuk bisa menemukan makna eksistensinya.

Ketidak-kloppan laju ini membuat manusia mengesampingkan proses dan mulai berpikir serta bersikap segera (instan) dalam memenuhi tuntutan hidupnya, dan terkadang apa yang ditemukan serta dipahami sebagai eksistensinya cenderung sempit, sekedar penampilan semata. Dalam situasi krisis psikologis (kebutuhan masyarakat menemukan eksistensinya), perusahaan-perusahaan raksasa memanfaatkan derita psikologis ini menjadi sebuah komoditas.

Kekuasaan mereka dipertahankan melalui manipulasi psikologis dan rekayasa manusia. Manusia mulai digeser orientasinya yang dulunya (di era kapital awal) visi hidup adalah kemandirian individu atau kapten di kapal sendiri, sebaliknya kini menjadi konsumtif. Ini yang disebut Skinner seorang filsuf pencerahan sebagai neobehaviorisme, budak dan pemilik budak berada dalam hubungan timbal balik.

Dalam pemahaman lama, si tuan-lah yang menguasai budaknya. Tetapi kondisi hari ini hubungannya tidaklah begitu, si tuan dan budak berada dalam posisi saling mengkondisikan (menguasai).

Manusia pada dasarnya dapat dikondisikan pada pola tertentu tetapi dia sendiri juga dapat bereaksi dalam pola yang berbeda apabila bertentangan dengan tuntutan manusiawinya. Di era cibernetika, individu direkayasa dan dimanipulasi seolah-olah ‘manusiawi’ agar tidak bereaksi dalam pola berbeda.

Skinner menyebut manipulasi ini sebuah ‘pembiasaan positif’. Minat profesinya, pola konsumsinya, dan kesibukan waktu luangnya dimanipulasi oleh iklan, wacana, serta ideologi melalui informasi terus-menerus tanpa henti, seakan-akan apa yang ditawarkan informasi sejalan dengan kebutuhan pencarian eksistensinya.

Maka, kita akan dengan mudah melihat hari ini sebuah masyarakat yang cara pandangnya, pola kerjanya hingga selera hidupnya cenderung sama persis. Individu dibebaskan dengan pilihan-pilihan yang telah ditentukan. Sikap kepentingan diri lebih dominan karena dia merasa telah bertindak atas dasar keinginannya sendiri.

Oleh karena itu, rasa ingin mendapatkan imbalan ‘pengakuan diri’ oleh lingkungan terhadap dirinya sangat kuat. Peran tanggung jawab aktifnya di dalam proses sosial akan hilang karena terlalu berusaha menuntut pemenuhan kediriannya, yang kemudian menciptakan banyak persaingan individu antar individu lainnya, sehingga bisa timbul kerentanan akan kehilangan makna hidup.

Ketika individu merasa tersisih dalam kompetisi kediriannya dengan individu yang lain, maka ia akan berlindung dalam kelompok yang dapat mewakili kediriannya sebagai bentuk pertahanan eksistensinya. Individu cenderung menjadi anonimitas, yaitu bersikap arogan dengan pengatasnamaan kelompok tidak lagi atas nama individunya.

Arogansi ini kadang mendapatkan pembenaran oleh kelompoknya. Disinilah kebrutalan massa mendapat peluang untuk mengekspresikan dirinya dalam berbagai bentuk kekejaman, perusakan, dan pembunuhan. Dalam kondisi seperti ini, akar kebutralan menemukan rumusannya sebagai suatu ekstasi.

Sebuah kondisi jiwa, keadaan puncak dimana orang melakukan kebrutalan merasakan kebahagiaan atau kebanggaan luar biasa. Kebrutalan dianggap benar, seolah-olah apa yang dilakukan merupakan sebuah bentuk kepahlawanan serta bentuk pembelaan kelompok. Sehingga wajah kebutralan yang tersurat adalah wajah tanpa rasa bersalah. 

Berikan Komentar Anda

1 Komentar Pada "Teror Psikologis"

avatar
anonim
Guest

Jadi belajar lagii