NEWSWANTARA – Optimisme Publik terhadap perubahan di Indonesia semakin berkobar dengan konsep revolusi mental yang didengungkan oleh Presiden Republik Indonesia ke-7, Joko Widodo (Jokowi).

Konsep revolusi mental yang dibawa oleh Presiden Jokowi merupakan sebuah bentuk pemikiran yang tak jauh dari apa yang telah diutarakan melalui pemikiran tokoh pendiri bangsa Soekarno yang disampaikan dalam pidatonya di tahun 1963 yang dikenal dengan sebutan Trisakti, yakni sebuah pemikiran mengenai tiga pilar utama untuk membentuk Indonesia yang berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Revolusi mental merupakan sebuah keharusan untuk menuju Indonesia yang lebih baik, maju dan sejajar dengan negara-negara lain di dunia. Sebagai contoh ketika Indonesia meraih kemerdekaannya pada tahun 1945, Jepang sedang luluh lantak akibat bom nuklir.

Namun sebuah perbedaan besar antara Indonesia dan jepang hingga hari ini begitu jelas terlihat perbedaannya. Kereta cepat Shinkansen misalnya, kereta tersebut telah ada di jepang sejak 35 tahun yang lalu, kegigihan kedisiplinan, dan kesantunan yang kuat merupakan sebuah motor penggerak bagi jepang untuk terus menjadi yang terdepan.

Tak hanya di Jepang, di negara-negara yang mampu menjadi pemimpin dalam berbagai bidang juga memiliki mental yang baik, seperti halnya di Singapura, Dahulu di negara tersebut sebuah pelanggaran kecil didenda.

Buang sampah sembarangan didenda, meludah sembarangan didenda, merokok di tempat umum pun juga didenda, walaupun ada beberapan orang yang mungkin merasa tidak senang dengan aturan tersebut namun mau tidak mau mereka harus mentaati sebuah aturan yang telah dibuat tersebut.

Ketika sudah menjadi sebuah budaya dan kebiasaan, tanpa ada aturan atau denda masyarakat akan memperhatikan sebuah norma norma yang tidak tertulis yang ada di dalam kehidupan bermasyarakat.

Revolusi mental di Indonesia harus benar benar digalakkan, karena akan memberikan dampak berubahan besar yang positif. Seluruh Potensi yang ada di negeri ini, baik itu sumber daya alam maupun sumber daya manusia, akan termanfaatkan dengan maksimal.

Namun tantangan dalam menggalakkan sebuah revolusi mental pasti memiliki sebuah hambatan dikarenakan, orang yang tidak terbiasa dengan budaya disiplin tentunnya akan memberikan sebuah penolakan atau sebuah resistensi.

        Mengubah suatu kebiasaan yang sudah lama mengakar diperlukan kedisiplinan dan waktu. Merevolusi mental bangsa ini memang sudah saatnya, namun para pemimpin harus memberikan contoh

~Prijono Sugiarto~

Menanamkan sebuah budaya memang tak bisa dilakukan dalam semalam. Hal tersebut merupakan sebuah proses yang berkesinambungan dan harus dilanjutkan dari satu pemimpin ke pemimpin berikutnya. Revolusi mental juga harus dilakukan secara top-down. Para pemimpin juga harus bisa menjadi teladan.

Bila seorang pemimpin mengatakan tidak boleh datang terlambat, maka ia pun harus memberikan contoh untuk menjadi yang pertama kali untuk tidak datang terlambat, karena walk the talk adalah kuncinya untuk membentuk suatu budaya disiplin demi sebuah kemajuan

Berikan Komentar Anda

avatar