Perkembangan teknologi

NEWSWANTARA – Perkembangan teknologi yang begitu pesat bagaikan dua sisi mata pisau yang tak bisa dipisahkan yang tentunya selalu memiliki dampak positif maupun negatif. Penggunaan teknologi yang begitu masif kini tengah menjadi tantangan utama dalam perkembangan ekonomi negara-negara di dunia. Kebijakan negara selalu tertinggal dengan cepatnya perkembangan teknologi saat ini.

Perkembangan teknologi yang begitu cepat ini menyebabkan perubahan perilaku ekonomi masyarakat yang cukup signifikan serta menyebabkan pergeseran mulai dari perubahan cara transaksi sampai perubahan gaya hidup (lifestyle) seseorang.

Perubahan perilaku masyarakat akibat perkembangan teknologi yang terlalu cepat terjadi ini membuat sejumlah kebijakan yang di keluarkan oleh negara pun menjadi sangat tertinggal. Seperti halnya pemerintah di negara yang tergabung dalam kelompok G-20 yang menguasai 80 persen perekonomian dunia saat ini belum siap dalam menghadapi situasi tersebut.

Perkembangan teknologi ini kini membuat perubahan pada setiap transaksi yang dilakukan seseorang dari transaksi fisik kini berubah menjadi serba online. Perkembangan teknologi ini membuat sebagian masyarakat semakin tertinggal dan tidak bisa mengikutinya. Alhasil, perekonomian masyarakat ini pun menjadi terganggu.

Di sisi lain, sistem ekonomi terbuka pada beberapa negara-negara di dunia menyebabkan banyaknya imigran masuk ke negara tersebut dan membuat kondisi mereka semakin terancam. Akibatnya, terjadi fenomena terpilihnya pemimpin yang cenderung memiliki kebijakan ekstrim di negara Eropa dan lainnya. Ini terjadi karena partai politiknya juga menyuarakan isu tersebut.

Indonesia sendiri juga tidak akan terlepas dari dampak yang akan dihasilkan dari perkembangan teknologi. Oleh karena itu, pemerintah kita saat ini terus berupaya untuk mengelolanya, baik dari sisi makro ekonomi, pertumbuhan, daya beli, maupun tenaga kerja untuk mengurangi angka kemiskinan dan kesenjangan.

Baca Juga :

Perlu adanya inovasi yang terus dilakukan dengan instrumen kebijakan yang ada. Salah satunya instrumen fiskal yang bisa dilakukan adalah Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang memiliki fungsi alokasi, distribusi, dan stabilisasi harus dioptimalkan untuk memberikan kesempatan bagi sebagian masyarakat yang belum merasakan kemajuan ekonomi, khususnya yang terdampak perkembangan teknologi ini.

Untuk menyajikan APBN yang sehat dan kredibel, pemerintah pun perlu memperoleh pendapatan melalui penerimaan, khususnya perpajakan. Dengan penerimaan ini, pemerintah bisa membangun infrastruktur, pemerataan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Untuk menciptakan keadilan yang merata, pemerintah tengah menyususn aturan terkait dengan kegiatan ekonomi yang dilakukan secara elektronik (online). Salah satunya adalah pengenaan pajak pada e-commerce guna menciptakan kepastian untuk semuanya, memberi perlakukan adil antara pelaku usaha yang masih bersifat tradisional dengan yang sudah berbasis online. Tetapi, di saat yang sama juga memberikan ruang bagi berkembangnya aktivitas digital.

Inovasi Teknologi Ancam Bonus Demografi dan Lapangan Kerja

Sumber daya manusia memegang peranan penting dalam pembangunan bangsa. Keberhasilan pembangunan suatu bangsa salah satunya ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang dimiliki bangsa itu, begitu pula dengan Indonesia.

Indonesia saat ini disebut-sebut sedang memasuki suatu tahapan atau era yang sangat krusial dan menentukan dalam perjalanannya sebagai sebuah bangsa yang juga berada dalam masa pembangunan.

Era yang krusial ini oleh banyak kalangan disebut-sebut sebagai era bonus demografi yang saat ini sudah dimulai dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada rentang tahun 2020-2030.

Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yaitu jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 70 persen, sedang 30 persen penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun) yang akan terjadi pada tahun 2020-2030.

Dengan demikian, pada tahun 2020-2030, Indonesia akan memiliki sekitar 180 juta orang berusia produktif, sedang usia tidak produktif sekitar 60 juta jiwa, atau 10 orang usia produktif hanya menanggung 3-4 orang usia tidak produktif

Perkembangan inovasi berbasis teknologi, terutama yang terkait dengan perubahan kegiatan ekonomi (disruptive innovation) memang membuat pelayanan kepada masyarakat menjadi semakin baik. Namun di sisi lain, perkembangan ini membuat kebutuhan terhadap Sumber Daya Manusia (SDM) semakin menurun. Bonus demografi yang akan dialami Indonesia pun bisa menjadi sebuah malapetaka.

Perubahan kegiatan ekonomi (disruptive innovation) ini akan menyebabkan tertutupnya lapangan kerja di kemudian hari, yang bisa digantikan oleh teknologi. Padahal, Indonesia ke depan akan mengalami bonus demografi, yakni jumlah angkatan kerja yang sangat melimpah.

Jika tidak ada solusi nyata kibat dampak pesatnya penggunaan teknologi dikalangan masyarakat, maka angkatan kerja ini justru bukan menjadi bonus bagi Indonesia, melainkan akan menjadi beban negara.

Penciptaan lapangan kerja harus terus dilakukan agar bonus demografi yang akan dialami bangsa ini bisa jadi dampak yang positif. Solusi nyata harus terus diupayakan untuk mengatasi masalah angkatan kerja produktif di era teknologi ini.

 

Berikan Komentar Anda

avatar