pict : ziraatyapma.blogspot.com

NEWSWANTARA – Persoalan pangan merupakan suatu masalah serius yang secara terus menerus dihadapai oleh negara-negara di seluruh belahan dunia. Begitu pula dengan Indonesia, permasalahan pangan merupakan suatu masalah yang bahkan hingga kini belum bisa terselesaikan.

Sejak tahun 1960-an hingga saat ini permasalahan pangan merupakan permasalahan serius yang harus dihadapi oleh pemerintah. Permasalahan pangan yang timbul dapat berakibat pada jatuhnya suatu pemerintahan dan kesulitan bagi masyarakat. Bangsa Indonesia pernah memiliki sejarah kelam dalam penanganan pangan, dimana pada tahun 1965, akibat kesulitan pangan menyebabkan jatuhnya pemerintah pada saat itu.

Begitu juga tahun 1997-1998, sebagai dampak dari el nino, Indonesia terpaksa harus mengimpor 6 juta ton beras. Pemerintah yang tidak bisa menjaga harga pangan serta keputusan impor yang telat berimbas pada harga beras yang semakin naik tajam, sehingga hal tersebut memunculkan suatu pemasalahan dalam pemerintahan.

Petani yang memegang peran sangat penting dalam ketahanan pangan sangat rentan terhadap perubahan iklim yang terjadi di negara tropis seperti Indonesia. Perubahan iklim menjadi suatu tantangan produksi yang harus dihadapi. Petani kita terus dihantui oleh kemungkinan-kemungkinan terburuk seperti kehilangan hasil pertanian, serangan hama penyakit dan kerugian pertanian karena perubahan iklim.

Sumberdaya dan kapasitas para petani Indonesia yang sangat terbatas menyebabkan banyak di antara mereka yang berpenghasilan rendah dan kekurangan akses ke pendidikan, tanah, pelayanan perkreditan dan finansial, bantuan teknis dan pasar. Keterbatasan ini menghambat daya mereka beradaptasi terhadap efek perubahan iklim sehingga produksi dan daya tahan terpengaruh.

Sebagai negara agraris, keputusan untuk impor beras guna mengendalikan permasalahan pangan merupakan suatu hal yang perlu dikaji ulang secara serius oleh pemerintah. Potensi dari sektor pertanian di Indonesia yang cukup besar belum termanfaatkan secara optimal. Langkah-langkah kongkrit harus diciptakan dalam membantu para petani Indonesia dalam meningkatkan hasil produksinya.

Membangun pertanian secara mandiri untuk mewujudkan kedaulatan pangan adalah sebuah keniscayaan yang tidak hanya dinikmati oleh generasi saat ini saja, namun juga untuk didedikasikan bagi generasi yang akan datang. Desain membangun pertanian harus berorientasi jangka panjang, tanpa melupakan penyelesaian jangka pendek.

Dalam membangun pertanian jangka panjang dan berkelanjutan, sudah tidak relevan lagi jika menggunakan paradigma lama. Pembangunan berbasis pertanian (agricultural led Development) perlu diubah menjadi berorientasi pada dua paradigma baru yaitu paradigma pertanian untuk pembangunan (agriculture for development) dan pertanian bio-industri berkelanjutan.

Desain rencana strategis jangka panjang harus menjadi acuan utama dalam menyusun dan melaksanakan program tesebut guna mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani. Rencana tersebut harus bertumpu pada kemampuan dan kekuatan untuk mengatur pangan secara mandiri. Jangan sampai mewariskan impor dan kemiskinan bagi generasi yang akan datang.

Berikan Komentar Anda

avatar