Pict : shiftindonesia.com

NEWSWANTARA – Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia, Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia yang cukup besar untuk dapat dimaksimalkan guna menciptakan dan menghasilkan suatu bentuk karya yang bernilai ekonomis.

Tak bisa dipungkiri pada era saat ini, kebutuhan masyarakat akan barang dan jasa merupakan suatu kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Sifat konsumtif dari masyarakat saat inilah yang membuat orang cenderung untuk mengabaikan apa yang menjadi kebutuhan mereka di masa yang akan datang.

Fenomena semacam itu menjadi sebuah ancaman sekaligus peluang bagi masyarakat. Ancaman yang nyata adalah bagi masyarakat yang tergolong konsumtif dimana mereka mempunyai perilaku keputusan pembelian jangka pendek tanpa pertimbangan dan perencanaan yang matang.

Jika hal semacam ini dilakukan secara terus menerus akan menjadi kebiasaan buruk yang berakibat pada ketidakmampuan memilah dan mengukur keseimbangan antara kebutuhan atau kemauan dengan kemampuan finansialnya.

Akibat dari ketidakmampuan tersebut sering berakibat fatal pada pelakunya seperti kredit macet, hutang yang sudah melebihi batas dan kesehatan keuangan yang buruk karena sikap konsumtif itu. Jika sudah demikian maka masyarakat akan cenderung untuk terjebak dalam masalah yang tak ada habisnya. Seperti halnya mengatasi masalah dengan menimbulkan masalah baru.

Masyarakat konsumtif mayoritas membeli barang-barang yang jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari karena semata untuk memuaskan gairah dan nafsunya. Perilaku konsumtif pun sepertinya sudah menjadi budaya yang terjadi di masyarakat Indonesia.

Jika konsumtif terhadap produk lokal, ini akan meningkatkan ekonomi nasional namun perilaku konsumtif cenderung terjadi pada produk luar yang akan membawa keuntungan bagi orang lain.

Bagi yang bijak maka akan melihat ini sebagai peluang dengan memanfaatkan kebiasaan
konsumtif menjadi hal yang produktif. Ada beberapa cara yang bisa dikerjakan seperti merawat barang yang sudah dibeli, kemudian menjual barang-barang yang tidak lagi digunakan karena nafsu dan hasrat yang telah terpenuhi.

Sifat masyarakat konsumtif juga bisa dimanfaatkan secara baik dalam bidang jasa kemudahan dalam pemuasan kebutuhan masyarakat. Sudah hal biasa dalam kehidupan saat ini yang dinamakan efisiensi dalam segala hal sampai perpindahan manusia menjadi masiv.
Contoh nyatanya adalah meningkatnya demand atas jasa pengantar baik manusia hingga
barang dan makanan.

Salah satu fenomena yang patut disoroti adalah perpaduan pemanfaatan teknologi informasi dengan efisiensi pergerakan manusia dan barang adalah GO-JEK. Munculnya GO-JEK adalah manifestasi dari pemanfaatan ancaman sebagai peluang dimana pencetus GO-JEK jeli dalam melihat hal ini. Benar saja, dengan menerapkan kemudahan dalam pemuasan kebutuhan masyarakat GO-JEK menjadi Primadona baru dalam bisnis Transportasi di Indonesia.

Pict : nasional.tempo.co
Pict : nasional.tempo.co

Tidak sampai disitu GO-JEK memberikan manfaat bagi hampir 10ribu driver nya di berbagai kota dengan income yang lebih dengan efisiensi waktu tunggu dan menjemput pelanggan. Hal lain nya adalah GO-JEK secara tidak langsung membantu masyarakat untuk melek teknologi.

Dari fenomena tersebut membuktikan bahwa GO-JEK merupakan salah satu contoh dari dampak positif pemanfaatan ancaman yang dapat menciptakan suatu peluang baru di tengah perilaku masyarakat yang semakin konsumtif. Masyarakat kita diharapkan mampu untuk membaca peluang-peluang ditengah ancaman yang ada guna menciptakan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang lebih baik.

Berikan Komentar Anda

4 Komentar Pada "Peluang dari Sebuah Ancaman"

avatar
Toni siswanto
Guest

Yang menjadi masalah sekarang adalah kecenderungan masyarakat kita dalam membaca peluang untuk membuat sebuah usaha baru masih memikirkan modal “uang” sebagai modal utama

Garry Abrian (@Garry_Abrian)
Guest

Di era cybernarnatika saat ini, kreativitas merupakan modal utama untuk menciptakan sebuah usaha baru mas, dan hal itu terbukti sudah dilakukan oleh kebanyakan anak muda sekarang. Banyak anak muda saat ini sudah memiliki perusahaan sendiri yang berbasis star up

Helmy Rafsanjani
Guest

Pemikiran hanya persoalan mindset, mindset erat kaitannya dengan pendidikan. Dengan memiliki angka pendidikan yang tinggi serta bekualitas diharapkan dapat membantu keluar dari pola pikir menghambat bergerak ke arah yang lebih maju. Keluar dari persoalan ini tidak serta merta harus menyalahkan salah satu pihak, dengan inisiatif yang bisa menstimulasi membantu dalam membuka pola pikir masyarakat indonesia.

Ridho Miqdar
Member

Di era teknologi yg serba maju ini kita harus jeli memang untuk melihat sebuah peluang dari sebuah ancaman. Karena di era ini kita memang dituntut untuk mampu bersaing, dituntut untuk mampu mencetuskan ide-ide cemerlang, dituntut untuk mampu mengeluarkan kreativitas-kreativitas tanpa batas. Sehingga apa yg menjadi dilema tentang kemajuan teknologi ini bisa diatasi dan bahkan bisa dijadikan sebagai sumber pendapatan. Semoga ke depannya akan muncul pencetus ide-ide cemerlang yang lain atau GO JEK-GO JEK yang lain, yang dapat mengubah sebuah ancaman menjadi sebuah peluang yang menjajnjikan yang berasal dari orang asli indonesia (SDM Indonesia).