pict : faktariau.com

NEWSWANTARA – Dunia saat ini telah memasuki sebuah era baru yang dinamakan dengan era perkotaan, dimana penduduk dari suatu negara sebagian besar tinggal di perkotaan. Lebih dari 50 persen penduduk Indonesia atau sekitar 55 persennya saat ini telah bermukim di kota. Pada 2020 nanti sebanyak dua pertiga penduduk Indonesia diprediksi akan tinggal di perkotaan.

Kawasan perkotaan yang kian hari kian berkembang begitu pesat memunculkan sebuah tren urbanisasi dikalangan masyarakat Indonesia. Fenomena urbanisasi seakan menjelma menjadi sebuah kekuatan manifestasi pola pikir, berbuat, menggunakan ruang, gaya hidup, sosial, budaya, hubungan dan kegiatan ekonomi, serta bagaimana pola produksi dan konsumsi.

Penduduk urban di Indonesia tumbuh lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan urban dunia. Dengan pertumbuhan GDP per kapita Indonesia dari 3.500 menuju ke 10.000 US Dollar dalam 20 tahun ke depan, Indonesia akan menjadi salah satu model pertumbuhan kelas menengah, seiring dengan tingkat urbanisasi yang tinggi.

Pada dasarnya urbanisasi merupakan salah satu faktor penggerak pertumbuhan ekonomi regional maupun nasional. Dengan pertumbuhan penduduk urban di Indonesia yang tinggi tersebut, akan tetapi pertumbuhan penduduk urban justru belum mampu untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi baik secara regional maupun nasional.

Masalah mobilitas dan aksesibilitas menjadi isu penting dalam tren urbanisasi. Mobilitas masyarakat perlu didukung oleh angkutan masal yang mumpuni. Pemerintah harus peka dan mendengarkan semua kondisi yang berkembang di masyarakat berkaitan dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai.

Tren urbanisasi yang berkembang saat ini bisa dilihat sebagai sebuah peluang tetapi bisa juga menjadi bencana. Bonus demografi yang dialami oleh Indonesia bagaikan pisau bermata dua. Urbanisasi pada dasarnya harus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, menghasilkan pembangunan dan menciptakan kesejahteraan masyarakat.

Pada saat yang bersamaan, urbanisasi itu pun memiliki berbagai tantangan termasuk diantaranya kemiskinan multidimensi, penurunan kualitas lingkungan, kerentanan terhadap bencana. Atas dasar itulah, negeri ini dihadapkan pada tantangan bagaimana untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi sumber manusia yang dimiliki.

Urbanisasi dapat berkontribusi besar terhadap perekonomian apabila penduduk yang masuk ke perkotaan adalah individu yang memiliki skill yang bagus, tingkat pendidikan baik, dan kualitas diri yang mendukung, sehingga individu tersebut berpeluang besar untuk menciptakan sebuah lapangan kerja baru serta nantinya juga akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi baik secara regional maupun secara nasional.

Laju Urbanisasi yang begitu tinggi harus diimbangi dengan peningkatkan kualitas kehidupan manusia. Gagasan untuk pembuatan sebuah kota pintar (smart city) guna menghadirkan sebuah tatanan kota yang memudahkan masyarakat mendapatkan informasi secara cepat dan tepat tentang ekonomi, mobilitas, lingkungan, manusia, kehidupan dan pemerintahan.

Selama ini penduduk yang memiliki skill mumpuni cenderung lari ke luar negeri, hal tersebut dikarenakan wilayah tempat tinggal mereka tidak mendukung untuk menunjang ide dan gagasan mereka. Dengan adanya konsep smart city di sebuah kota tersebut, kedepannya diharapkan penduduk urban yang memiliki skill bagus, tingkat pendidikan baik, dan kualitas diri yang mendukung dapat mampu berkembang untuk menciptakan suatu lapangan pekerjaan baru.

Berikan Komentar Anda

avatar