Pict : detik.com

NEWSWANTARA – Rasa cinta tanah air menjadi penting ketika mengukur seberapa jauh rasa nasionalisme untuk berkontribusi dalam kemajuan bangsa. Nasionalisme merupakan sikap nyata untuk menunjukan identitas nasional dalam mempertahankan kedaulatan sebuah negara (nation).

Kemampuan bertindakan menjadi realitas dalam memaknai nasionalisme yang sebenarnya. Sikap konsisten dalam mempertahankan idealisme sejalan pada tatanan dalam mewujudkan rasa nasionalisme.

Mewujudkan nasionalisme harus diikuti oleh konsistensi yang menjadi poin dalam mewujudkan nasionalisme. Bukan sekedar atribut yang ditampilkan dari luarnya saja, bukan hanya jargon yang keluar sebagai gertak semata, bukan juga sebagai kata yang hanya bisa dibaca tanpa bisa dipahami.

Unsur nasionalisme telah tumbuh semenjak negara itu ada. Mempertahankan rasa nasionalisme wujud dari kesadaran akan rasa hormat kepada pejuang yang memperjuangkan kata nasionalisme. Tindakan dan dukunganlah yang akan membawa nasionalisme menuju bangsa yang disegani dan dihormati.

Nasionalisme kembali diperbincangkan setalah Arcandra Tahar, mantan menteri ESDM diberhentikan dengan masa jabatan tersingkat. Alasan pemberhentian Arcandra dikarenakan memiliki kewarganegaraan ganda (dwi kewarganegaraan).

Gloria pun demikian, paskibraka yang disebut memiliki dwi kewarganegaraan hingga tidak diperbolehkan mengikuti prosesi upacara 71 tahun Bangsa Indonesia merdeka. Penerapan dwi kewarganegaraan dapat dipandang sebagai faktor negatif dan positif.

Tentu ada baiknya jika melihatnya dari sudut pandang positif. Seperti yang disampaikan Wakil Presiden Yusuf Kalla, bahwa penerapan dwi kewarganegaraan dapat memberi kesempatan kepada rakyat Indonesia untuk bisa berkarir di luar negeri tanpa menghilangkan kewarganegaraan Indonesia.

Pemanggilan Arcandra Tahar bukan tanpa alasan, sederet prestasi telah ditorehkan oleh pria asal Padang ini. Kejeniusannya membawa Arcandra untuk dipercaya sebagai menteri ESDM. Meninggalkan posisi prestisius sebagai Presiden Petroneering Houston di Texas AS untuk memilih kembali ke Indonesia.

Terkandala dwi kewarganegaraan, Arcandra diberhentikan secara hormat ketika baru saja memulai jabatannya sebagai menteri ESDM. Berdasarkan Pasal 29 UU No.12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI, Arcandra Tahar tidak bisa begitu saja menjadi WNI lagi melainkan harus mengajukan permohonan kembali.

Permohonan itu membutuhkan syarat tinggal di Indonesia selama lima tahun berturut-turut atau 10 tahun tidak berturut-turut. Selain itu ketakutan bahwa dwi kewarganegaraan akan membuat rasa nasionalisme orang berkurang.

Berkaca pada khasus Arcandra, kembalinya beliau ke Indonesia dengan meninggalkan posisi strategis bagian dari sikap cinta tanah air akan kemajuan Bangsa Indonesia. Perlu pengkajian kembali akan konstitusi yang diterapkan di Indonesia khususnya dalam hal kewarganegaraan.

Bakat dan talenta putra-putri Indonesia sangat disayangkan jika tidak dimaksimalkan dengan baik. Peran pemerintah yang perlu memperhatikan putra-putri yang berbakat harus sejalan dengan harapan bangsa dalam mewujudkan kemajuan Indonesia.

Kerja nyata yang menjadi tagline pemerintah harus dilakukan oleh orang-orang yang tepat dalam menjalankan roda pemerintahan. Memupuk nasionalisme, Bangsa Indonesia bisa kokoh untuk tidak terpengaruh politik pecah belah yang dapat mengadu domba antar kelompok masyarakat Nusantara.

Memegang teguh kata nasionalisme dapat membantu untuk tetap bersatu mewujudkan mimpi founding father Bangsa Indonesia. Menjadikan sebagai nilai dasar yang tidak bisa diganggu gugat dalam mempertahan identitas bangsa.

Berikan Komentar Anda

avatar