NEWSWANTARA – Pekerja di Indonesia akan menghadapi persaingan dari pekerja-pekerja lain di Asia Tenggara. Persaingan di bursa tenaga kerja akan semakin meningkat menjelang pemberlakuan pasar bebas Asean pada akhir 2015 mendatang. Ini akan mempengaruhi banyak orang, terutama pekerja yang berkecimpung pada sektor keahlian khusus.

Para pemimpin ASEAN sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara pada akhir 2015 mendatang. Ini dilakukan agar daya saing ASEAN meningkat serta bisa lebih kompetitif pada persaingan global. Penanaman modal asing di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan.

Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat. MEA bertujuan untuk memberikan keleluasaan dan kebebasan bagi Negara-negara anggota ASEAN dengan menghapuskan pungutan-pungutan ekspor impor seperti: kuota, tarif dsb, sehingga memudahkan aliran barang, jasa, tenaga kerja terampil serta aliran investasi keluar masuk di suatu negara. 

Kesiapan mengahadapi MEA 

Dilihat dari sisi demografi, sumber daya manusia Indonesia menghadapi ASEAN Economic community (AEC) atau dikenal dengan MEA memiliki peluang yang besar menjadi Negara yang produktif. Jika dilihat dari faktor usia, sebagian besar penduduk Indonesia atau sekitar 70% nya merupakan usia produktif. Jika kita lihat pada sisi ketenaga kerjaan kita memiliki 110 juta tenaga kerja.  

Secara umum ada empat hal yang paling penting dalam pelaksanaan MEA. Pertama, ASEAN sebagai pasar dan produksi tunggal. Kedua, pembangunan ekonomi bersama. Ketiga, pemerataan ekonomi. Keempat, perkuatan daya saing, termasuk pentingnya pekerja yang kompeten.

Masyarakat Indonesia untuk saat ini terkenal dengan masyarakat yang konsumtif. Sebagai contoh, Pasar Tanah Abang di Jakarta, sebagai pasar utama tekstil di Asia Tenggara, kabarnya sekitar 80% nya diisi tekstil impor.

Terlepas dari apa yang terjadi sekarang ini, permasalahan bangsa menjadi permasalahan kita juga. Jika dilihat dari sisi potensi ekonomi, Indonesia merupakan salah satu emerging country yang saat ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi ASEAN. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2015 sebesar 4,73 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2015 yang tercatat 4,67 persen dan kuartal I 2015 yang sebesar 4,72 persen (BPS). Dari sisi jumlah penduduk, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar yakni 247 juta jiwa sebagai pasar potensial dan tenaga kerja.

Prospek Indonesia sebagai negara dengan perekonomian nomor 16 di dunia, nomor 4 di Asia setelah China, Jepang dan India, serta terbesar di Asia Tenggara, semakin menjanjikan karena didukung oleh melimpahnya sumber daya alam, pertumbuhan konsumsi swasta dan iklim investasi yang makin kondusif. Segala bentuk yang menyangkut urusan bangsa mutlak menjadi kepentingan bersama.

Menutup mata bukan jalan keluar menuju Indonesia lebih baik lagi. Justru akan membawa Indonesia semakin terpuruk dengan potensi besar yang dimiliki oleh bangsa yang besar. Indonesia harus mempersiapkan diri dengan matang, karena mau tidak mau Indonesia harus membuka mata dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN.

“Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain”.

~Pramodya Ananta Toer~

Penyampaian secara frontal menginginkan masyarakat indonesia sadar akan  potensi serta kekurangan yang dimiliki. Kesadaran inilah yang nantinya akan mengarahkan pada inisiatif, hal yang harus dimiliki oleh bangsa Indonesia untuk keluar bersama menuju bangsa yang lebih produktif dan mandiri. Menakar kekuatan bukanlah cara untuk mengetahui kelebihan, melainkan memikirkan permasalahan untuk perubahan yang nyata. 

Berikan Komentar Anda

1 Komentar Pada "Indonesia Menjawab Tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN"

avatar
Fajrul Umam
Member

Semoga kita bisa jadi pemain, tidak sekedar jadi penonton