Individualisme
Individualisme kini sudah menjadi ideologi massa. Ideologi ini mengisi kepanikan, keputusasaan dan ketidakpastian akan masa depan yang dirasa kian tidak manusiawi [ilustrasi]

NEWSWANTARA – Apabila ada yang bilang kesejahteraan sosial itu bisa jadi hanya lip service. Orang sekarang pada umumnya tidak mau adanya kesejahteraan sosial, mereka maunya makmur sendiri-sendiri. Tetangganya tidak makmur ya biarkan saja. Maka jangan kaget ada orang yang berkecukupan tetapi tetangganya kekurangan.

Jangan kaget pula kalau ada tetangga desa kita yang berjuang menolak pertambangan akibat pencemaran lingkungan, kita tenang-tenang saja dikarenakan desa kita tidak kena imbas dampaknya. Itulah diri kita saat ini.

Di sadari atau tidak sikap individu pelan-pelan sudah merasuki jiwa bangsa ini. Maka kita jangan dulu menyalahkan sesorang itu individual, karena jangan-jangan kita sendiri juga seperti itu tetapi tidak menyadarinya saja.

Kenapa bisa begitu? Hari ini kita hidup di masa globalisasi dimana kemenangan tunggal hanyalah arena ekonomi. Semua pertukaran ditandai simbol materi, ukurannya adalah kekayaan. Semua interaksi harus memiliki imbalan. Cepat atau lambat hukum pasar (persaingan) mulai mendominasi semua lini kehidupan. Waktu kemudian berada dalam kondisi yang begitu cepat.

Baca Juga: Teror Psikologis

Siapa yang mampu bergerak lebih cepat, dia akan menang dan sedikit saja melambat bisa berdampak kegagalan atau kekalahan. Keadaan ini akan menyebabkan setiap orang kejar-kejaran untuk bisa tetap survive, saling ambil jalan pintas agar bisa dapat pekerjaan layak, setiap ambisinya selalu minta segera ada hasilnya.

Kompetisi ini berlangsung terus menerus tanpa ada yang menengahi, entah bersaing di karir, dagang, jasa, maupun urusan-urusan yang lain. Bila sudah demikian orang akan mengalami kegamangan, kepanikan, dan pada akhirnya mengalami titik kepayahan. Karena segala ruang meniscayakan harus ada ongkosnya/imbalan, maka orang mulai mencoba keluar dari tekanan yang membebaninya dengan mencoba bebas dari sekian norma dan tanggung jawab sosialnya.

Hidup sudah sedemikian susah sehingga orang mulai mereduksi hidupnya dengan tujuan untuk bisa survive. Jiwa survive ini kemudian mengendap menjadi pandangan hidup bahwa yang utama adalah kepentingan diri sendiri. Dirinya yang semula adalah bagian dari sosial kini mulai melepaskan diri dari tuntutan sosialnya dan menjadi individualis. Maka kecenderungan yang ada adalah mencari keuntungan langsung dan menyingkirkan perasaan-perasaan kolektif maupun tujuan bersama.

Kita seolah hidup dalam tekanan permintaan yang harus diwujudkan sekarang dan di sini. Kini semakin banyak orang yang berpikir mengenai apa yang bisa didapatkan saat ini. Jadi fenomena individualisme merupakan pencarian rasa aman, nyaman dan bahagia untuk dirinya sendiri diakibatkan perlindungan sosial telah hilang.

Individualisme ini sudah menjadi ideologi massa. Ideologi ini mengisi kepanikan, keputusasaan dan ketidakpastian akan masa depan yang dirasa kian tidak manusiawi. Maka bisa dipahami apabila kebutuhan dirinya menggeser kebutuhan sosialnya.

Individualisme juga berimplikasi pada hubungan kerja; individu dibebankan dengan target yang harus dicapai, evaluasi diukur pada individu, sistem gaji atas dasar prestasi individu, kompetensi individu.

Di kalangan pengusaha sendiri, agar tetap bisa bersaing akan melakukan efisiensi terus menerus. Demi tuntutan efisiensi banyak cara dilakukan dengan melalui penghentian tenaga kerja, delokalisasi perusahaan, dan outsourcing. Baik pengusaha maupun tenaga kerja dibuat patuh oleh situasi tak menentu dan ancaman sewaktu-waktu tutup atau menganggur.

Jadi, dasar tatanan ekonomi yang mengagungkan individu ini ternyata adalah kekerasan struktural. Individualisme yang tak terkontrol ini diperparah konsumsi gaya hidup. Kagum pada penampilan dan bisa berujung pada hedonis. Banyaknya yang mempertontonkan kemewahan dan kekinian gaya hidup menyebabkan orang yang melihat memiliki hasrat membeli, yang terjadi adalah keinginan mengalahkan kebutuhan.

Barang-barang yang sebenarnya sekunder atau tersier tiba-tiba kini menjadi suatu yang primer. Karena bila tidak terbeli, orang akan dihinggapi perasaan terpisah dari ruang sosialnya dan merasa takut diposisikan rendah oleh sosialnya. Akhirnya orang berupaya untuk memperbarui gaya hidupnya terus-terusan agar selalu diterima dan diakui oleh lingkungan sosial.

Ini konsekuensi dari menangnya arena ekonomi. Perlahan-lahan ekonomi pasar akan menyingkirkan semua struktur kolektif yang menjadi hambatannya (negara, kelompok sindikat, asosiasi pekerja, dan koperasi), yang akhirnya semua orang kehilangan perlindungan sosialnya.

Manusia kemudian menyesuaikan diri dengan kultur yang tidak manusiawi untuk bisa bertahan hidup sehingga tidak peka lagi terhadap penderitaan orang lain dan juga terhadap penderitaan dirinya.

Berikan Komentar Anda

avatar