Anak muda Indonesia
Anak muda Indonesia harus bisa berkejasama untuk melanjut estafet pembangunan di Indonesia yang diwujudkan produktivitas. [Pict : Istimewa]

NEWSWANTARA – Kondisi anak muda semakin hari semakin tidak terkontrol, sangat berpusat pada diri sendiri dan ingin memuaskan keinginannya tanpa pikir panjang. Banyak diantara mereka bersifat acuh tak acuh dalam lingkungan. Seolah tutup mata untuk berusaha menciptakan keadaan yang lebih baik.

Rasa tidak peduli akan sesuatu inilah menjadi tantangan di tengah perkembangan era digital. Besarnya pengaruh teknologi dalam kehidupan anak muda jaman sekarang ibaratkan bagai dua mata pisau. Perkembangan teknologi membuat mereka lupa identitas dirinya dari derasnya arus pertukaran budaya.

Baca juga : Mendorong Pengembangan Industri Pertahanan Swasta

Perilaku semacam ini dapat menurunkan rasa percaya diri anak yang bisa membawa pada melupakan identitas anak itu sendiri. Jika dibiarkan, perilaku semacam ini akan melunturkan rasa bangga terhadap budayanya sendiri. Padahal kebudayaan Indonesia begitu kaya yang datang dari keberagaman sebagai identitas bangsa.

Ditambah lagi pengaruh narkoba yang semakin hari angkanya semakin memprihatinkan. Hasil Penelitian BNN bekerja sama dengan UI menunjukan bahwa jumlah penyalahgunaan narkoba sebesar 1,5% dari populasi atau 3,2 juta orang. Hal ini sangat memprihatinkan yang bisa mengancam masa depan generasi penerus.

Baca juga : Individualisme Secara Perlahan Telah Merasuki Jiwa Bangsa

Menyikapi perkembangan jaman yang sangat cepat, pemuda perlu merespon perubahan degan langkah yang berorientasi pada solusi. Dibutuhkan langkah inisiatif seperti halnya yang dilakukan oleh Sikdam Nasim dengan segala keterbatasnya. Sikdam merupakan Pendiri Disabilities Youth Centre Indonesia yang merupakan lembaga swadaya bagi penyandang disabilitas usia 12-30 tahun.

Dibutuhkan tindakan yang kreatif seperti Yasa Paramita Singgih yang besar dengan bisnis clothing-nya. Ia merupakan Founder dan Presiden Men’s Republic dimana brand-nya sudah menembus pasar ekspor seperti Hong Kong, Makau, Taiwan, Malaysia dan Filipina dan Eropa dengan omset ribuan dolar per bulan.

Baca juga : Mendorong Pengembangan Industri Pertahanan Swasta

Dibutuhkan pemikiran inovatif yang menjadi kunci dari menyikapi cepatnya perubahan yang terjadi. Hal itulah yang dilakukan oleh Nadiem Makarim dengan Go-Jeknya. Perusahaan teknologi yang melayani angkutan melalui jasa ojek secara online. Langkah inovasi yang dilskukannya menjadikan Go-Jek menjadi perusahaan inovatif di Asia.

Tantangan yang semakin kompetitif di tengah persaingan global telah berlangsung. Diberlakukannya MEA hingga AFTA memberi iklim kompetitif bagi Indonesia. Bagi anak muda Indonesia, siap tidak siap harus selalu siap berkompetisi. Jika tidak mempersiapkan diri, cepat atau lambat kompetisi akan didominasi oleh orang asing.

Sudah saatnya anak muda Indonesia menunjukan sikap mental yang kompetitif. Bukan mental menjadi ‘penonton’ yang menyakitkan harapan pendiri bangsa. Perubahan nyata berada di tangan para pemuda. Pemudalah yang akan menjadi estafet pembangunan dalam menentukan masa depan bangsa.


Diolah dari berbagai sumber 

Berikan Komentar Anda

avatar