Orang Batak
Halak Batak (dalam bahasa Batak) adalah orang Batak atau putra dan putri dari keturunan asli Batak. Mereka menggunakan Ulos, kain Batak, sebagai pakaian mereka. Pakaian ini biasanya digunakan selama acara tradisional Batak. (Foto: Istimewa)

NEWSWANTARA – Masyarakat awam seringkali mengira dan mengenal orang Batak memiliki karakter yang keras. Keras di sini dalam artian dari segi bicaranya yang menggunakan suara keras dan lantang seperti orang yang sedang marah-marah, namun bukan hanya itu saja, Orang Batak sendiri juga terkenal dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos. Namun selain memiliki karakter yang keras ternyata orang Batak memiliki prinsip hidup yang selalu dipegang teguh secara turun-temurun. Lalu apa saja prinsip orang Batak yang selalu dipegang teguh tersebut? Berikut ulasannya.

1. Anakkonhido Hamoraon Diau (anakku adalah harta yang paling indah dalam hidupku)

Bagi orang Batak memiliki anak adalah sebuah harta yang tak ternilai dan tak dapat tergantikan, karena prinsip itulah orang Batak akan selalu berusaha mendidik anak-anaknya dan menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin walaupun harus berhutang.

(Baca Juga: Ciri Kebudayaan Suku Batak Yang Paling Fenomenal Di Indonesia)

Sisi lain dari orang Batak adalah sangat membutuhkan kehadiran anak laki-laki dalam keluarga, karena anak laki-laki ini nantinya sebagai penerus marga keturunan dari orang tua laki-laki.

Dalam keluarga Batak yang tidak memiliki anak laki-laki, misalnya jika anak ke 1 sampai ke 5 masih perempuan, orang tuanya akan tetap berusaha mendambakan anak laki-laki sehingga keturunannya bahkan menjadi 7 orang bahkan 9 orang.

2. Hagabeon, Hasangapon dan Hamoraon (Keberhasilan, kemuliaan dan kesuksesan)

Bagi orang Batak prinsip keberhasilan, kemuliaan dan kesuksesan sangat penting untuk selalu dipegang teguh. Keberhasilan bukan semata-mata tentang materi tetapi juga berhasil dalam membangun sebuah rumah tangga yang harmonis serta dikaruniai anak laki-laki dan perempuan.

(Baca Juga: Ulos, Kain Tenun Penjaga Keselamatan Jiwa Masyarakat Batak)

Kemuliaan juga tidak serta merta mengenai kekuasaan ataupun status sosial yang tinggi, tetapi juga mengenai sikap saling menghargai dan menjaga sesama orang Batak terutama di perantauan.

Selain kesuksesan dalam arti materi, bidang pendidikan, usaha, karir dan lain-lain, orang Batak juga dituntut untuk sukses dalam adat istiadat suku itu sendiri. Jangan heran jika bertemu sesama orang Batak tetapi tidak tahu “tarombo” (silsilah) maka akan dianggap aneh.

3. Dalihan Na Tolu (Tiga aturan utama yang harus dipatuhi)

Dalihan Na Tolu adalah prinsip sosial-kultur yang menyangkut masyarakat dan budaya Batak. Dalihan Na tolu menjadi landasan hubungan-hubungan kekerabat darah dan hubungan perkawinan orang Batak. Dalam adat batak, Dalihan Na Tolu ditentukan dengan adanya tiga aturan utama yang harus dipatuhi bersama yakni:

  • Pertama, Somba Marhulahula (semba/hormat kepada keluarga pihak Istri.
  • Kedua, Elek Marboru (sikap membujuk/mengayomi wanita)
  • Ketiga, Manat Mardongan Tubu (bersikap hati-hati kepada teman semarga)

(Baca Juga: Suka Cita Upacara Kematian Khas Batak)

Dalihan Na Tolu merupakan prinsip yang terbilang sakral bagi orang Batak karena disetiap adat dan acara Batak kata-kata ini pasti selalu diucapkan. Tanpa Dalihan Na Tolu, hidup orang Batak tidak akan memiliki kekerabatan yang erat seperti sekarang ini. Dalihan Na Tolu sekaligus sebagai fundamentalisme kehidupan yang sebenarnya selaras dengan kehidupan berbangsa dan bernegara yang diatur oleh Pancasila sebagai dasar Negara kita.

4. Pogos Diarta Alai Mora Diadat (Harta boleh miskin, asal adat tetap kaya)

Jika ada seseorang dari Suku Batak yang dikategorikan sebagai orang miskin secara ekonomi, belum tentu dia memiliki status yang sama dalam hal adat. Seringkali seorang raja di adat adalah orang yang dikategorikan tidak mampu secara ekonomi, dan orang yang mampu secara ekonomi harus menghormati raja adat tersebut dengan mengesampingkan status ekonomi.

Orang Batak sangat memegang teguh adat istiadat mereka. Adat menjadi penuntun untuk saling menghargai dan menghormati orang lain. Orang Batak menempatakan Adat pada posisi paling tinggi dalam prinsip hidupnya. Setiap orang Batak juga diwajibkan harus tahu silsilah mereka, jika tidak maka akan dianggap kurang menghargai adat.

5. Kerjakan apapun, asalkan halal!

Seringkali kita mengidentikkan orang Batak dengan pekerjaannya sebagai sopir angkot sopir metromini atau mikrolet, bagi orang Batak kerja apapun jadi asalkan halal dan tidak merugikan orang lain. Lebih baik mandi keringat halal daripada harus menjadi pengangguran sebab pengangguran adalah sebuah hal yang tabu dimuka orang Batak apalagi harus mengemis atau mengamen.